Apakah Pengadilan Independen?

ketok palu

“Apakah secara de facto pengadilan Indonesia sudah independen dari pemerintah yang berkuasa, politisi dan kelompok lainnya?” (Wardhana 2013)

–Desember 11, 2013–

Saat ini kita sedang disibukkan dengan debat pro kontra terkait putusan pengadilan atas seorang petinggi partai. Pihak yang pro putusan pengadilan menyampaikan bahwa vonis hakim sudah adil. Di lain pihak, pihak yang kontra vonis memandang pengadilan tidak independen.

Apakah independensi pengadilan itu?

Independensi adalah situasi dimana sebuah lembaga tidak tergantung pada pemerintah atau lembaga lainnya. Independensi pengadilan dalam menegakkan keadilan hukum di suatu negara dapat disamakan dengan independensi bank sentral dalam mengawal kebijakan moneter (moneter terkait dengan penerbitan mata uang, nilai tukar, suku bunga pinjaman tingkat dan inflasi yang di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia).

Independensi pengadilan berarti lembaga pengadilan tidak dipengaruhi oleh pemerintah yang berkuasa, politisi, dan pihak lainnya yang berkepentingan pada hasil pengadilan yang menguntungkan pihak mereka. Pengadilan yang independen idealnya akan menegakkan keadilan berdasarkan konstitusi dan hukum yang berlaku. Dalam hal, hakim memutuskan perkara yang belum diatur secara eksplisit, maka keputusannya diharapkan akan memihak untuk kemaslahatan terbaik dalam konteks kepentingan nasional dan publik.

Apakah independensi pengadilan penting?

Pengadilan yang independen sangat penting untuk keberlangsungan dan kemajuan suatu bangsa. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka semakin banyak masalah hukum yang harus diselesaikan. Jika suatu pengadilan independen dan tidak dapat dipengaruhi keputusannya, maka keadilan akan tegak. Keadilan yang terjamin akan mendorong hubungan antar manusia, antar lembaga dan antar negara.

Sebagai contoh, transaksi perdagangan akan meningkat pesat karena setiap pihak terjamin akan mendapatkan barang dan uang sesuai dengan kesepakatan antar penjual dan pembeli. Pemilik modal akan merasa aman untuk menginvestasikan dananya membangun pabrik dan memulai produksi dengan jaminan pengadilan yang independen. Berdasarkan data empiris (keadaan sebenarnya), negara-negara yang ekonominya maju diawali dengan sistem pengadilan yang independen.

Feld and Voigt (2013) memeriksa hubungan antara independensi pengadilan berdasarkan de jure (aturan tertulis) dan de facto (praktek sebenarnya) dengan pertumbuhan ekonomi di 75 negara. Mereka menemukan perbedaan independensi pengadilan antara de jure dan de facto dimana yang pertama memiliki seperangkat aturan independen secara tertulis sedangkan yang kedua menggambarkan praktek independensi yang sebenarnya.

Mereka menyimpulkan bahwa independensi pengadilan de facto yang dapat menjelaskan pertumbuhan ekonomi. Independensi pengadilan de facto memiliki hubungan signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Bagaimana dengan pengadilan di Indonesia?

Bagaimana independensi pengadilan Indonesia secara de jure? Apakah secara de facto pengadilan Indonesia sudah independen dari pemerintah yang berkuasa, politisi dan kelompok lainnya? Saya tunggu pandangan anda semua!

Fenomena Negara Maju dengan Empat Musim

“Penghargaan terhadap waktu merupakan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara iklim dengan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di dunia.” (Wardhana 2013)

–6 Des, 2013–

4 seasons

Hari ini dan esok, jalanan dan permukaan tanah di kota Dallas dipenuhi oleh es, bukan salju. Semua membeku diselimuti es termasuk pohon dan ranting. Praktis kantor dan sekolah ditutup, orang-orang berdiam diri di rumah.

Dari kejadian ini ada hal yang menggelitik saya. Kalau kita perhatikan ada fenomena unik mengenai persamaan negara-negara maju yaitu mereka memiliki 4 musim (subtropis) yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tidak umum bagi negara tropis yang hanya punya dua musim (musim hujan dan musim kemarau) seperti Indonesia untuk duduk di deretan negara maju. Pengecualian adalah tetangga kita Singapura.

Beberapa ekonom menghubungkan proses sebab-akibat antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui penyakit. Di negara tropis, penyakit mematikan sangat mudah menular, para investor menghindari tempat ini sehingga perkembangan ekonominya terhambat. Berbeda dengan negara subtropis yang lebih aman dalam konteks penyakit.

Ada juga ekonom yang mengaitkan antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui penghargaan terhadap waktu. Di negara 4 musim, masyarakatnya sangat peduli dengan waktu. Kalau mereka tidak menghitung waktu, mereka bisa mati, misalnya karena kurang persiapan untuk musim dingin (tanaman mati, jalanan tidak dapat dilalui, dll). Sementara penduduk negara tropis sangat cuek dengan waktu karena sepanjang tahun dapat bekerja tanpa jeda cuaca.

Melihat perkembangan penanganan penyakit di negara tropis yang cukup progresif, saya melihat hipotesis pertama dapat diabaikan. Secara khusus dengan mengamati Indonesia, saya lebih cenderung pada hipotesis kedua. Penghargaan terhadap waktu merupakan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara iklim dengan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di dunia.

Di negara maju, waktu sangat dihargai. Jadwal kereta di Tokyo, Jepang bukan 5.30 atau 6.30 namun 5.07, 6.32. Telat 1 menit ya bye bye, harus menanti 5-15 menit kereta selanjutnya. Dalam rapat-rapat di Amerika dan Eropa, jadwal sangat ketat. Mulai jam 5.30, maka mulai tepat 5.30 bukan dibuat molor menunggu yang hadir sampai jam 6.30 bahkan 7.30.

Bagaimana dengan penghargaan waktu di negeri kita? Kita semua tahu sendiri-lah tanpa perlu di-detil-kan. Makanya negara kita sangat terkenal sebagai “the rubber watch” alias si jam karet. Sebutan ini hanya puncak gunung es dari perilaku kita yang sangat tidak menghargai waktu. Akhirnya etik kerja dan produktivitas kita cenderung rendah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jika Indonesia ingin menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah dan kemiskinan enyah), kita harus memulai dengan satu kata: WAKTU. Hargai dan perlakukan waktu sebagai aset termahal. Hilangkan budaya JAM KARET. Hilangkan budaya INSYAA ALLAH ala Indonesia (untuk ngeles dan janji palsu). Mulai budaya TEPAT WAKTU. Mulai budaya KOMIT pada JANJI dan WAKTU.

Apakah bisa? Tentu bisa. If you think we can, we can!

Rupiah Lemah dan Momentum Ekspor Indonesia

“… dengan membuat Yuan lemah maka barang made in China bisa membanjiri dunia.” (Wardhana 2013)

–Des 3, 2013–

rupiah vs dollar
Melemahnya nilai tukar rupiah boleh saja diratapi oleh sebagian kalangan karena akan menyebabkan berbagai kesulitan ekonomi. Secara teknis, rupiah yang melemah terhadap dolar menyebabkan utang pemerintah dan swasta dalam bentuk mata uang asing melonjak jika di-rupiah-kan. Jika sebelumnya utang Rp 10 juta pada kurs 1 dolar = 10 ribu rupiah, maka sekarang utang berjumlah Rp 12 juta pada kurs 1 dolar = 12 ribu rupiah.

Namun di lain pihak, kondisi ini akan sangat menguntungkan bagi kalangan yang mengekspor barang Indonesia ke luar negeri. Jika sebelumnya harga barang Rp 10 juta = 1000 dolar, maka sekarang harga barang menjadi 833 dolar. Tentu saja barang dengan harga lebih murah (kualitas sama) akan sangat diminati.

Inilah rahasia mengapa China begitu ngotot mempertahankan kurs nilai tukar Yuan agar selalu lebih rendah dari yang seharusnya terhadap dolar. Mereka adalah ekonomi berbasis ekspor sehingga dengan membuat Yuan lemah maka barang made in China bisa membanjiri dunia.

Hendaknya pemerintah membuka keran ekspor seluas-luasnya dengan berbagai kemudahan bisnis, pembiayaan, dan edukasi. Jika ini momentum untuk mendirikan lagi Bank Pembangunan, ayo silakan digarap. Bisa juga membesarkan lembaga penjamin pembiayaan ekspor yang sudah ada. Permudah jangan dipersulit. Jangka panjangnya, dengan eksportir yang maju, pengangguran berkurang, kemiskinan punah, dan bangsa menjadi kuat. Kembali China sebagai contoh model ini.

Akhirnya sebagai penutup, mari kita camkan kalimat berikut. Daripada menangisi keadaan, lebih baik menikmatinya.

Australia-Indonesia: Antara Sahabat dan Tetangga

“Mungkin kita tidak bisa memilih tetangga tetapi kita selalu memiliki kebebasan memilih sahabat.” (Wardhana 2013)

— Des 3, 2013–

australia indonesia map

Saya sependapat dengan pandangan Anies Baswedan (Antara, 3 Desember 2013) bahwa:

“Saya kira, Indonesia-Australia itu bukan negara sahabat, melainkan negara tetangga yang hubungan keduanya perlu dibangun dengan cara-cara beradab. Abbott itu mirip anak TK, karena pelajaran pertama anak TK adalah minta maaf. Kalau tidak mau minta maaf berarti kalah dari anak TK.”*

Menurut saya, hubungan sahabat adalah kesetaraan dan reciprocity (timbal balik). Kesalahan dalam persahabatan itu hal biasa. Namun kalau salah satu pihak merasa lebih hebat dan digdaya, angkuh, dan memandang remeh pihak lain, ketegasan diperlukan. Hubungan sahabat bisa saja diputuskan dalam konteks ini. Walaupun kedua belah pihak tetap bertetangga namun tidak menjadi sahabat.

Jangan pernah kuatir kehilangan satu sahabat karena prinsip tegas dan harga diri. Walaupun sahabat berkurang, namun yang didapat adalah sahabat yang lebih loyal dan terpercaya.

Secara praktis, jangan takut kesulitan mengimpor daging sapi. Indonesia bisa mengimpor dari Selandia Baru dan Amerika Latin. Sapi di Pulau Sulawesi juga berlimpah namun kesulitan infrastruktur untuk perdagangan ke Pulau Jawa menurut Jusuf Kalla (2013).

Menurut hitungan saya, kehilangan persahabatan Indonesia-Australia akan membawa kerugian lebih besar kepada Australia. Dia semakin tergantung pada Amerika Serikat di seberang sana dalam “menghadang” China. Dia akan kebanjiran pengungsi dan manusia perahu. Dia akan kehilangan pasar sebesar 250 juta orang.

Bagaimana hibah dana beasiswa yang mencapai 500 orang di level master dan doktoral per tahun kepada sarjana Indonesia? Memang ini kerugian untuk pembangunan SDM kita. Namun masih banyak hibah dari negara lain serta dukungan perusahaan yang bisa dimanfaatkan. Bahkan salah satu lembaga pemerintah Indonesia mengklaim dapat membiayai ribuan pelajar Indonesia setiap tahun ke luar negeri.

Hikmah kasus ini dapat diperas dalam satu kalimat. Mungkin kita tidak bisa memilih tetangga, tapi kita selalu memiliki kebebasan memilih sahabat.

Kenapa Harus Indonesia (Puisi)

–Nopember 22, 2008–

Aku selalu bertanya
Kenapa terlahir dengan berkulit coklat
Berambut gelap
Dengan bola mata hitam

Aku selalu bertanya
Mengapa memakan nasi
Menyukai lalapan
Meminum es cincau

Aku selalu bertanya
Mengapa terlahir di negeri seribu pulau
Yang setiap hari terancam
Seribu satu bencana

Aku selalu bertanya
Kenapa berada di negeri aneh
Terkorup se-Asia
namun tidak satupun dihukum mati karenanya

Aku selalu bertanya
Kenapa harus Indonesia
Yang ditakdirkan
Untuk hidupku

Aku selalu bertanya
Kenapa aku tidak terlahir
di Eropa atau Amerika
Bukan pula Arabia

Aku selalu bertanya
Dan perlahan kutemukan
Bisikan
Kuharap jawaban-Nya

Bahwa Takdir-Nya
Skenario-Nya
Titah-Nya
Kepadaku

“Tanah perjuanganmu
Bukan di mana-mana
Tidak jauh-jauh
Melainkan sangat dekat

Indonesia adalah medanmu
Berjuanglah di atas buminya
Penuhilah takdir-Nya
Jadilah pahlawan di jalan-Nya

Aku selalu bertanya
Kini telah kutemukan
Jawaban-Nya

Ya Allah Tuhanku
Jadikan aku
Pejuang di jalan-Mu
di dunia
di Indonesia