Gapai Cita-cita Setinggi Langit

“Fisik boleh kere tapi jiwa harus seperti Raja merdeka.” (Wardhana 2013).

–April 29, 2013–

cita-cita

Adik-adik sekalian yang punya cita-cita tinggi menjulang ke langit namun tidak didukung karena orang tua miskin, jangan menyerah!

Selalu belajar tak kenal lelah, bermimpi tak kenal kecewa. Allah swt tidak pernah tidur dan lupa pada hamba-hamba-Nya yang selalu berjuang dan bekerja untuk menggapai kebaikan.

Saat ini banyak sekali bantuan pendidikan mengalir dari banyak pintu, pemerintah maupun swadaya masyarakat. Miliki keyakinan, jiwa pejuang, dan kerja keras untuk menjemput rezeki. Fisik boleh kere tapi jiwa harus seperti Raja merdeka.

Man jadda wa jada!

Pilih Dijajah Inggris atau Belanda?

” … kita memang selalu harus bersyukur plus belajar untuk mengerti hikmah dari setiap peristiwa, termasuk penjajahan.” (Wardhana 2013)

–Maret 28, 2013–

Evolution_of_the_Dutch_East_Indies

Semula saya selalu beranggapan bahwa jika Indonesia dijajah oleh Inggris, kondisi kita akan jauh lebih baik. Ternyata setelah membuka-buka lembaran sejarah dan membanding-bandingkan, saya bersyukur Indonesia “mendapatkan” penjajah Belanda. Mengapa? Minimal ada 3 alasannya:

1. Belanda menerapkan sentralisasi yang mengikat ribuan pulau, ratusan suku bangsa, ratusan dialek, dan berbagai agama. Sejak awal multikulturalisme yang ada dibiarkan saja, tanpa direkayasa. Berbeda dengan British India yang menerapkan segregasi berdasarkan agama. Akhirnya, Indonesia lahir sebagai 1 negara, sementara India terbagi menjadi Pakistan dan India (plus Bangladesh) yang sampai sekarang menjadi musuh bebuyutan.

2. Belanda mempromosikan Bahasa Melayu sebagai bahasa kedua karena tidak ingin Dutch dikuasai oleh pribumi. Akibatnya kita punya bahasa nasional pemersatu. Bandingkan dengan Pakistan dan Bangladesh yang berperang dan pecah karena masalah pemaksaan Urdu sebagai bahasa nasional.

3. Belanda bersungguh-sungguh dan berkonsentrasi mendapatkan semua pulau di Indonesia dengan mengusir semua penjajah lain. Hanya Pulau Solor Timur (Timor Leste) yang tidak bisa direbut dari Portugis. Kalau bukan karena komitmen Belanda, kemungkinan besar akan terdapat banyak negara di kepulauan nusantara. Contohnya di Afrika.

Anda boleh setuju, boleh juga tidak atas interpretasi sejarah yang saya tulis ini. Namun intinya, kita memang selalu harus bersyukur plus belajar untuk mengerti hikmah dari setiap peristiwa, termasuk penjajahan…. Wallahu a’lam

Antara Parpol dan Kudeta Militer

“Semoga gonjang ganjing parpol tidak menjadi huru hara. Kita doakan bersama agar setiap parpol menjadi semakin matang dan kuat.” (Wardhana, 2013)

–Februari 7, 2013

Terlepas dari drama gonjang ganjing parpol di Indonesia yang semakin menarik ditonton hari demi hari, kita masih bersyukur pada 3 hal:

1. Parpol dan pemerintahan BELUM dikuasai oleh keluarga (Partai penguasa dan Kabinet India dikuasai oleh keluarga Nehru-Indira sejak merdeka tahun 1947).

2. Persaingan antar parpol BELUM menjadi pertikaian antar keluarga atau personal (Perseteruan pribadi antara 2 wanita -Zia dan Hasina- selama 20 tahun terakhir membahayakan Bangladesh).

3. Carut marut politik dan penegakan hukum BELUM menjadi alasan militer untuk kudeta pemerintahan sipil (Huru hara politik Pakistan sejak merdeka diwarnai oleh kudeta para jenderal dengan alasan menyelamatkan negara).

Semoga gonjang ganjing parpol tidak menjadi huru hara. Kita doakan bersama agar setiap parpol menjadi semakin matang dan kuat.

Sehingga: Tidak ada partai milik keluarga si anu. Tidak ada pemimpin parpol A dendam kesumat dengan pemimpin parpol B. Dan tidak ada jenderal yang mengambil alih pemerintahan sah.

Mari bersama jaga masa depan Indonesia!

Failure in public partnerships

The Jakarta Post

— Agustus 14, 2009–

Being perhaps the most geographically unique country in the world, Indonesia faces a higher burden compared to other, continental nations in ensuring infrastructures equitably to its citizens.

Instead of producing this infrastructure alone, the government has, since 2005, mobilized the necessary funds from the private sector, both domestically and internationally, by enacting Presidential Decree No. 67/2005, an umbrella regulation for public private partnerships (PPPs). Until to day, the PPPs have embarked on 87 projects, worth a combined total of more than US$34 billion (PPP Book, 2009).

Regardless of any potential benefit, a PPP is neither a perfect concept nor a panacea. As an example, the United Kingdom is the leading country in terms of PPPs; however, there was a spectacular case of failure surrounding Metronet (UK House of Commons, Transport Committee, 2008).

This £15.7 billion (US$25 billion) project was signed off on in 2003. Tasked with maintaining and renewing the London underground, Metronet declared bankruptcy in 2007. Although Metronet is not a typical PPP in terms of money and complexity, it offers substantial lessons to learn from.

Learning from the Metronet case, Vining and Boardman (2008) defined essential rules for governments to avoid the failure of PPPs.

The first rile is to ensure regulations that ensure transparency for all PPPs are adopted. There are some fundamental indicators for real transparency such as consistent and timely budget reporting; public availability of all contracts; public consultation; a fair bidding process; and the disclosure of potential contingent liability.

Simply, without transparency, a PPP is more likely to end up in disaster; either the government will end up having to bail it out with additional funds or the PPP will be stopped altogether.  Hence, this is the meta-rule.

The second rule is to create separately the regulation; analysis; contracting; and oversight agencies. By definition, the regulation agency constructs fundamental regulations to all agencies, ensures compliancy and solves conflicts that may occur among agencies. The analysis agency analyzes the social cost-benefit of PPP proposals, assesses possible contingent liabilities, fiscal and other risks and chooses the best partnership scheme that is in line with national macroeconomic frameworks.

Meanwhile, the contracting agency organizes all PPPs: tendering bids, selecting partners and making and monitoring contracts. The oversight agency evaluates performance of all PPPs to minimize government expenditure and to keep track of all future liabilities, as well as ensuring the contracting agency fulfills requirements for transparency and bidding process.

Inevitably, these separations are needed to secure checks and balances. A single powerful PPP agency is more likely to abuse its authority and end up with failures. Indeed, there is no uniform design of these agencies, especially for the contracting agency. In UK, the contracting agency is formed as a public and private joint venture; in India it is under the Ministry of Finance; while in Korea it is under a think tank.

In respect to decentralized institutions, the contracting agency in Indonesia may be established at both central and local government levels. However, a PPP center is necessary to coordinate all PPP units; to share resources in terms of knowledge, experience and expertise; to improve capacity and to achieve efficiency and reduce costs. In conclusion, the key point of this rule is that a balanced power system ensures the success of a PPP is more likely.

The third rule is to ensure that the bidding process is reasonably competitive. It is impossible to achieve the highest efficiency and the lowest cost in a monopolistic market. Obviously, competition among three to five bidders is better than between two bidders or less.

So, the government, as the PPP promoter, should be proactive in searching for the optimal number of bidders by neither favor nor restrict particular bidders. Moreover, the PPP promoter can encourage bidders by lowering the bidding costs, and if possible, remunerating some or all. Thus, the highest potential of a PPP will not be met unless fair competition is secured.

The fourth rule is to avoid a stand-alone company with limited equity or a large consortium of partners. Forming a separate, special purpose vehicle (SPV), may create moral problems for the parent company, which lowers its own equity at risk. If problems arise, easily, the SPV can declare bankruptcy rather than finding operational solutions.

Similarly, a private sector partner that is too large creates no incentive to provide the needed organizational leadership fundamental to the success of a PPP. The key point is to ensure that the private sector partners have strong incentives to maximize their capacity to administer the project by sharing adequate interests and risks.

The fifth rule is to prohibit the private sector contractor from selling the contract too early. Needless to say, the primary advantage of a PPP is synergy among partners and the agreement to share resources, risks and rewards. Meanwhile, a PPP is usually a long term contract divided into design, construction, operation, and transfer to government phases.

So, if a partner thinks that it can sell a contract in the early phase, before all of the bugs are known, it will have an incentive to under invest in the project. Eventually, when problems arise, it is not clear which company should be blamed and held responsible. Thus, the government should enforce an optimal time lag before permitting a partner to sell the contract to others parties.

The main advantage of a PPP is public private synergy. But the PPP is not a perfect concept; there is the potential for failure. Hopefully, the government can avoid these potential failures by ensuring the right rules are put in place.

The writer works at the fiscal policy office and is a master’s student at the Asian Public Policy Program, Hitotsubashi University, Tokyo. This is his personal opinion.

Indonesia Kapan Bisa Aman?

“Kalau sebuah negara aman terkendali, punya pasar ratusan juta orang, hukum dan penegakannya jelas, investor dan pebisnis akan berbondong-bondong membanjiri negeri kita.” (Wardhana, 2009)

–Juni 27, 2009–

Sedih dan terpukul! Itulah perasaan di dada setelah mendengarkan penuturan jujur dari seorang eksekutif perusahaan Jepang. Saat itu, dalam suasana santai makan malam, kami menghabiskan waktu bersama dengan berdiskusi hal-hal ringan. Sampai suatu saat, salah seorang pendiri firma hukum terbesar di Negeri Sakura ini mengatakan niatnya untuk membuka cabang di Viet Nam dalam waktu dekat. Spontan saya menimpali mengapa tidak buka di Indonesia?

Jawabannya seketika adalah tidak karena alasan keamanan. Kemudian dia menceritakan bahwa untuk membuka kantor perwakilan di suatu negara dan mengirimkan seorang manajer dibutuhkan minimal lima staf dan tenaga lokal: sekretaris, bagian umum, pengemudi, pembantu rumah tangga, dan petugas keamanan. Nah, kantor pusat Tokyo kuatir dengan berbagai kejadian perampokan dan penculikan yang terjadi terhadap orang asing, dengan bantuan para staf dan tenaga lokal tersebut.

Kebayang gak sih perasaan kita sebagai anak bangsa? Indonesia negara terbesar di ASEAN, negara demokrasi terkemuka dunia, kalah dalam isu mendasar yang sangat diperhatikan pebisnis dan investor, dengan sebuah negara Low Income Country, baru merdeka tahun 70-an, dan negara komunis pula.

Jadi saya semakin sadar bahwa untuk mengatasi masalah perekonomian kita tidak dibutuhkan hal-hal besar dan hebat dengan rumus-rumus yang susah. Gampang aja, tanyakan saja pada setiap orang, kebutuhan apa yang paling mendasar yang anda butuhkan? Pasti jawabannya seragam dan standar-standar saja…. Ya, masalah keamanan salah satunya. Kalau sebuah negara aman terkendali, punya pasar ratusan juta orang, hukum dan penegakannya jelas, investor dan pebisnis akan berbondong-bondong membanjiri negeri kita.

Semoga masalah keamanan ini menjadi hal yang benar-benar diperhatikan dan dituntaskan oleh para capres. Malu kita di forum internasional kalau di kota Jakarta yang dikepung oleh berbagai instansi aparat keamanan dan ribuan petugas berstandar dunia, dilengkapi dengan persenjataan dan teknologi mutakhir, menghabiskan APBN bahkan bantuan luar negeri, spion mobil masih sering dicongkel oleh gerombolan penjahat yang hanya berkampak.

Tantangan untuk Presiden Terpilih

“Demokrasi dan desentralisasi pada sebuah negara yang masih lemah dalam hal institusi sebagaimana di Indonesia akan menyebabkan merajalelanya korupsi.” (Wardhana 2009)

–Juni 14, 2009–

Beberapa hari lagi, rakyat Indonesia akan memilih langsung pasangan capres cawapres yang diharapkan akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara.

Siapapun presiden yang terpilih nantinya, ia akan menghadapi tantangan berat sebagai berikut:

1. Geografi
Indonesia merupakan negara nomor satu yang paling terpisah geografi-nya di dunia (the most spatial division country) karena wilayah daratannya terpisah menjadi 17 ribu lebih pulau. Akibat langsung dari kondisi ini tentu saja ongkos yang sangat mahal untuk menjamin ketersediaan fasilitas mendasar untuk seluruh rakyat. Jika infrastruktur sebuah negara berbasis daratan seperti AS dan Cina dibandingkan dengan Indonesia, maka biaya yang kita butuhkan untuk mencapai level perhubungan nasional yang sama bisa menjadi beberapa kali lipat.

2. Demokrasi
Sistem demokrasi yang dibangun sejak runtuhnya Orde Baru dapat menjadi berkah atau bencana bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan bukti empiris dari negara-negara di dunia, kondisi sebuah negara demokratis dengan kualitas institusi hukum yang rendah menyebabkan kerusakan ekonomi yang lebih parah dibandingkan dengan negara otoriter dengan kualitas institusi hukum yang sama. Karena itu, peningkatan kualitas institusi hukum menjadi syarat mendasar bagi kelanjutan pertumbuhan ekonomi.

3. Desentralisasi
Pemerintah pusat harus membangun sistem yang dapat menjamin efisiensi dan efektifitas penerapan desentralisasi di bidang politik dan keuangan. Dalam kondisi pemerintahan pusat lemah dan tidak terdapat kontrol yang memadai serta kelemahan dalam koordinasi antar pemerintah daerah, desentralisasi akan mengganggu kepentingan ekonomi nasional.

4. Korupsi
Demokrasi dan desentralisasi pada sebuah negara yang masih lemah dalam hal institusi sebagaimana di Indonesia akan menyebabkan merajalelanya korupsi. Pada gilirannya, kondisi ini akan semakin memperparah demokrasi yang lemah dan akan menggoyahkan desentralisasi fiskal dan demokrasi di tingkat daerah.

5. Kemiskinan, Pengangguran dll
Kondisi kemiskinan tiap tahun tidak menunjukkan perubahan signifikan, sekitar 35 juta penduduk miskin dan 10% pengangguran.

Kesimpulannya, tantangan-tantangan di atas seharusnya membuat presiden terpilih tidak bisa tidur nyenyak selama 5 tahun kepemimpinannya.

Kepada segenap kandidat capres dan cawapres, kami ucapkan “Selamat berkampanye damai”.
Kepada rakyat Indonesia, pilih dengan cermat dan ketenangan hati karena pilihan anda mempertaruhkan masa depan bangsa dan negara.

Indonesia: Demokrasi dan Ekonomi

“… titik keseimbangan demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi modal terbesar Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.” (Wardhana, 2009)

–Juni 3, 2009–

Menarik sekali mencermati pandangan-pandangan kandidat capres dan cawapres mengenai konsep ekonomi yang ideal bagi kepentingan nasional. Beberapa poin yang bisa saya sampaikan dari hasil pemahaman pribadi antara lain:

Pertama, saya bangga sebagai anak bangsa karena kini para pemimpin bangsa kita sudah semakin dewasa. Perdebatan antar elit politik sudah memasuki hal-hal yang substansial dan fokus pada tujuan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Walaupun masih terlihat upaya menyerang lawan politik dari segi kepribadian, namun yang sangat menonjol di ruang publik adalah sikap saling mengkritisi konsep dan kebijakan yang kelak akan diadopsi oleh pasangan pemenang saat memerintah. Sehingga, kini, kita semakin akrab dengan istilah-istilah ekonomi. Lebih jauh lagi, kita semakin mengerti dengan alasan-alasan di balik penerapan suatu kebijakan pemerintah. Tentu saja proses ini sangat positif untuk mewujudkan demokrasi yang dewasa dan stabil secara berkesinambungan.

Hal kedua adalah, masalah ekonomi menjadi isu sentral dari retorika dan wacana yang dilontarkan para pasangan capres cawapres. Masing-masing pasangan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan kehebatan resep ekonomi mereka. Ada yang menawarkan kecepatan bertindak, ada yang menggelorakan isu ekonomi kerakyatan, dan tentu saja ada yang mengajak agar konsep yang ada dilanjutkan karena telah terbukti mengatasi masalah ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Lebih hebatnya lagi adalah naik kelasnya profesi ekonom, dari sebatas penjaga gawang kebijakan ekonomi fiskal dan moneter, kini menjadi ekonom-politisi yang memiliki kekuasaan lebih besar dalam mengeksekusi resep-resep ekonomi. Bahkan, kalau kita melihat catatan latar belakang profesi para presiden dan wakil presiden sejak dwi tunggal Sukarno Hatta*, baru pada tahun 2009 inilah nilai pasar seorang ekonom, diwakili oleh sosok Boediono, dianggap sebanding dengan nilai pasar jenderal, politikus, pengusaha, atau keturunan keluarga presiden.

Ketiga dan terakhir, saya semakin bangga lagi karena di tengah suasana panasnya pemilihan presiden, kondisi ekonomi tidak memburuk. Bahkan pasar menunjukkan sentimen positif terhadap perkembangan politik akhir-akhir ini. Hal ini tentu saja merupakan bukti dari semakin mapannya demokrasi Indonesia. Karena itu, saya optimis bahwa titik keseimbangan demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi modal terbesar Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.

Ayo maju bangsaku!

* Bung Hatta adalah ekonom-pejuang dan dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Pertanian Indonesia Maju, Bisa!

“Kebijakan pro-pertanian juga berarti bahwa pemerintah harus konsisten pada tata ruang rencana pembangunan pertanian.” (Wardhana 2008)

–Desember 24, 2008–

Perum Bulog akan memulai ekspor beras pada kuartal III 2009. Jika Indonesia telah memiliki surplus beras sebesar 5 juta ton, maka Bulog akan membidik Malaysia, Filipina, Timor Leste dan Brunei sebagai negara tujuan ekspor. Diperkirakan dengan beras kualitas super sebesar 1-1,5 juta ton, diperoleh devisa sebesar sampai dengan 750 juta dollar (8,29 trilyun rupiah). Demikian intisari paparan Mustafa Abubakar sebagaimana diliput di Harian Umum Kompas, 24 Desember 2008.

Tentu saja berita ini adalah sebuah kabar gembira bagi rakyat Indonesia. Sebuah prestasi pertanian yang membanggakan. Kita sudah berada di jalur yang tepat dalam membangun keunggulan pangan dan akan menjadi nomor 1 di ASEAN.

Namun ada beberapa hal yang penulis cermati dan usulkan agar kebijakan pangan ini menjadi sempurna.

Pertama, kebijakan pro pertanian yang konsisten dan berkelanjutan. Sehingga pertanian tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan ekonomi, bukan sektor yang dipinggirkan. Agar jumlah lahan pertanian tidak menyusut, berubah menjadi kompleks industri atau perumahan mewah. Supaya petani bisa menjadi pilihan pekerjaan yang menjamin masa depan generasi muda.

Baru-baru ini, wacana jalan tol se-Jawa hangat dibicarakan. Infrastruktur jalan raya tentu sangat mendukung pembangunan ekonomi. Namun kita juga tidak boleh menutup mata pada akibat buruk yang mungkin muncul pada sektor lain termasuk pertanian. Menurut teori kebijakan sektor publik, Pareto Improvement, sebuah kebijakan baru tidak boleh merugikan sektor-sektor yang sudah ada. Atau paling minim, kebijakan yang akan diberlakukan benar-benar ditimbang baik buruknya. Menurut saya, pilihan infrastruktur yang paling cocok bukan jalan tol, namun kereta api.

Dengan kereta api, tanpa menghancurkan hutan yang menjaga harmoni alam, tidak merusak lahan pertanian, dan tidak mengeluarkan biaya pembebasan lahan dan pembangunan jalan yang begitu fantastis jumlahnya. Selain terhindar dari bahaya banjir, menyusutnya lahan pertanian, dan utang luar negeri yang begitu besar, dengan kereta api kita semakin merangsang industri dalam negeri dan proyek energi yang lebih baik.

Kebijakan pro-pertanian juga berarti bahwa pemerintah harus konsisten pada tata ruang rencana pembangunan pertanian. Juga memberi dukungan sepenuhnya pada petani dalam bentuk penelitian benih unggulan, pemberantasan hama, pupuk, optimalisasi lahan, pendampingan, penyuluhan, penyaluran hasil tani dan promosi petani menjadi profesi yang menjanjikan. Belajar dari kondisi para petani di Jepang yang semakin lanjut usia dan kehilangan penerus dari generasi muda untuk menggarap lahan, pemerintah harus meningkatkan citra dan penghasilan petani.

Kedua, membangun pertanian non-beras dan peternakan penghasil bahan makanan pokok. Melihat kondisi pangan selain beras, kita patut bersedih. Indonesia masih menjadi importir gandum, bahan baku mie instan dan roti serta kedelai, bahan baku utama tempe dan tahu. Ditambah lagi dengan impor daging ayam, daging sapi, susu, bahkan jagung (benih jagung hibrida). Jika keadaan ini berkelanjutan, Indonesia akan semakin tergantung pada negara asing dan rawan pada fluktuasi harga dunia. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan semakin parah.

Untuk mengatasi masalah ini, semua pihak dikomandoi oleh Departemen Pertanian harus bertindak cepat dan terkoordinasi. Pemerintah daerah bersama dengan perusahaan daerah dan nasional bisa membangn kemitraan dengan petani. Universitas harus diberi insentif untuk fokus melakukan penelitian guna menghasilkan bibit dan benih terbaik. Kebijakan impor harus di-review kembali sehingga lebih pro-pertanian. Kita mesti all out membela kepentingan kita. Bagaimanapun, industri pertanian ini adalah hal vital bagi kelangsungan suatu negara. Sehingga wajar jika negara-negara majupun sangat protektif pada pertaniannya.

Ketiga, menghidupkan kembali konsep dan praktek transmigrasi dengan pendekatan baru. Nusantara yang begitu luas dan kaya ini harus dioptimalkan dengan penyebaran penduduk. Banyak daerah yang potensial namun kekurangan sumber daya manusia. Beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum memberangkatkan transmigran antara lain: lahan transmigrasi harus dibangun infrastrukturnya terlebih dahulu, di antaranya fasilitas perdagangan, pendidikan dan pemukiman yang layak. Kemudian, pelatihan pertanian modern juga diberikan kepada calon transmigran sebelum berangkat. Tak lupa, sosialisasi kepada masyarakat lokal tempat tujuan transmigrasi juga dilaksanakan untuk mencegah gesekan sosial.

Jika kebijakan transmigrasi ini berjalan baik, selain pertanian semakin maju, integritas wilayah juga akan terjaga. Daerah-daerah perbatasan akan berkembang pesat dalam aspek ekonomi dan sosial. Di tambah lagi, pengangguran dan kemiskinan akan tereduksi. Tanah tujuan transmigrasi menjadi A Dreamland yang menjanjikan.

Itulah tiga usulan penulis untuk kemajuan sektor petanian Indonesia. Saran masukan dari sahabat-sahabat semua sangat dinantikan. Jika bermanfaat, mohon usulan ini dipertimbangkan juga oleh para kandidat capres dan cawapres 2009 berikut calon menteri-menterinya.

Bravo petani! Bravo Indonesia!

Kenapa Harus Indonesia (Puisi)

–Nopember 22, 2008–

Aku selalu bertanya
Kenapa terlahir dengan berkulit coklat
Berambut gelap
Dengan bola mata hitam

Aku selalu bertanya
Mengapa memakan nasi
Menyukai lalapan
Meminum es cincau

Aku selalu bertanya
Mengapa terlahir di negeri seribu pulau
Yang setiap hari terancam
Seribu satu bencana

Aku selalu bertanya
Kenapa berada di negeri aneh
Terkorup se-Asia
namun tidak satupun dihukum mati karenanya

Aku selalu bertanya
Kenapa harus Indonesia
Yang ditakdirkan
Untuk hidupku

Aku selalu bertanya
Kenapa aku tidak terlahir
di Eropa atau Amerika
Bukan pula Arabia

Aku selalu bertanya
Dan perlahan kutemukan
Bisikan
Kuharap jawaban-Nya

Bahwa Takdir-Nya
Skenario-Nya
Titah-Nya
Kepadaku

“Tanah perjuanganmu
Bukan di mana-mana
Tidak jauh-jauh
Melainkan sangat dekat

Indonesia adalah medanmu
Berjuanglah di atas buminya
Penuhilah takdir-Nya
Jadilah pahlawan di jalan-Nya

Aku selalu bertanya
Kini telah kutemukan
Jawaban-Nya

Ya Allah Tuhanku
Jadikan aku
Pejuang di jalan-Mu
di dunia
di Indonesia