Indonesia Kapan Bisa Aman?

“Kalau sebuah negara aman terkendali, punya pasar ratusan juta orang, hukum dan penegakannya jelas, investor dan pebisnis akan berbondong-bondong membanjiri negeri kita.” (Wardhana, 2009)

–Juni 27, 2009–

Sedih dan terpukul! Itulah perasaan di dada setelah mendengarkan penuturan jujur dari seorang eksekutif perusahaan Jepang. Saat itu, dalam suasana santai makan malam, kami menghabiskan waktu bersama dengan berdiskusi hal-hal ringan. Sampai suatu saat, salah seorang pendiri firma hukum terbesar di Negeri Sakura ini mengatakan niatnya untuk membuka cabang di Viet Nam dalam waktu dekat. Spontan saya menimpali mengapa tidak buka di Indonesia?

Jawabannya seketika adalah tidak karena alasan keamanan. Kemudian dia menceritakan bahwa untuk membuka kantor perwakilan di suatu negara dan mengirimkan seorang manajer dibutuhkan minimal lima staf dan tenaga lokal: sekretaris, bagian umum, pengemudi, pembantu rumah tangga, dan petugas keamanan. Nah, kantor pusat Tokyo kuatir dengan berbagai kejadian perampokan dan penculikan yang terjadi terhadap orang asing, dengan bantuan para staf dan tenaga lokal tersebut.

Kebayang gak sih perasaan kita sebagai anak bangsa? Indonesia negara terbesar di ASEAN, negara demokrasi terkemuka dunia, kalah dalam isu mendasar yang sangat diperhatikan pebisnis dan investor, dengan sebuah negara Low Income Country, baru merdeka tahun 70-an, dan negara komunis pula.

Jadi saya semakin sadar bahwa untuk mengatasi masalah perekonomian kita tidak dibutuhkan hal-hal besar dan hebat dengan rumus-rumus yang susah. Gampang aja, tanyakan saja pada setiap orang, kebutuhan apa yang paling mendasar yang anda butuhkan? Pasti jawabannya seragam dan standar-standar saja…. Ya, masalah keamanan salah satunya. Kalau sebuah negara aman terkendali, punya pasar ratusan juta orang, hukum dan penegakannya jelas, investor dan pebisnis akan berbondong-bondong membanjiri negeri kita.

Semoga masalah keamanan ini menjadi hal yang benar-benar diperhatikan dan dituntaskan oleh para capres. Malu kita di forum internasional kalau di kota Jakarta yang dikepung oleh berbagai instansi aparat keamanan dan ribuan petugas berstandar dunia, dilengkapi dengan persenjataan dan teknologi mutakhir, menghabiskan APBN bahkan bantuan luar negeri, spion mobil masih sering dicongkel oleh gerombolan penjahat yang hanya berkampak.

Tantangan untuk Presiden Terpilih

“Demokrasi dan desentralisasi pada sebuah negara yang masih lemah dalam hal institusi sebagaimana di Indonesia akan menyebabkan merajalelanya korupsi.” (Wardhana 2009)

–Juni 14, 2009–

Beberapa hari lagi, rakyat Indonesia akan memilih langsung pasangan capres cawapres yang diharapkan akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara.

Siapapun presiden yang terpilih nantinya, ia akan menghadapi tantangan berat sebagai berikut:

1. Geografi
Indonesia merupakan negara nomor satu yang paling terpisah geografi-nya di dunia (the most spatial division country) karena wilayah daratannya terpisah menjadi 17 ribu lebih pulau. Akibat langsung dari kondisi ini tentu saja ongkos yang sangat mahal untuk menjamin ketersediaan fasilitas mendasar untuk seluruh rakyat. Jika infrastruktur sebuah negara berbasis daratan seperti AS dan Cina dibandingkan dengan Indonesia, maka biaya yang kita butuhkan untuk mencapai level perhubungan nasional yang sama bisa menjadi beberapa kali lipat.

2. Demokrasi
Sistem demokrasi yang dibangun sejak runtuhnya Orde Baru dapat menjadi berkah atau bencana bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan bukti empiris dari negara-negara di dunia, kondisi sebuah negara demokratis dengan kualitas institusi hukum yang rendah menyebabkan kerusakan ekonomi yang lebih parah dibandingkan dengan negara otoriter dengan kualitas institusi hukum yang sama. Karena itu, peningkatan kualitas institusi hukum menjadi syarat mendasar bagi kelanjutan pertumbuhan ekonomi.

3. Desentralisasi
Pemerintah pusat harus membangun sistem yang dapat menjamin efisiensi dan efektifitas penerapan desentralisasi di bidang politik dan keuangan. Dalam kondisi pemerintahan pusat lemah dan tidak terdapat kontrol yang memadai serta kelemahan dalam koordinasi antar pemerintah daerah, desentralisasi akan mengganggu kepentingan ekonomi nasional.

4. Korupsi
Demokrasi dan desentralisasi pada sebuah negara yang masih lemah dalam hal institusi sebagaimana di Indonesia akan menyebabkan merajalelanya korupsi. Pada gilirannya, kondisi ini akan semakin memperparah demokrasi yang lemah dan akan menggoyahkan desentralisasi fiskal dan demokrasi di tingkat daerah.

5. Kemiskinan, Pengangguran dll
Kondisi kemiskinan tiap tahun tidak menunjukkan perubahan signifikan, sekitar 35 juta penduduk miskin dan 10% pengangguran.

Kesimpulannya, tantangan-tantangan di atas seharusnya membuat presiden terpilih tidak bisa tidur nyenyak selama 5 tahun kepemimpinannya.

Kepada segenap kandidat capres dan cawapres, kami ucapkan “Selamat berkampanye damai”.
Kepada rakyat Indonesia, pilih dengan cermat dan ketenangan hati karena pilihan anda mempertaruhkan masa depan bangsa dan negara.

Indonesia: Demokrasi dan Ekonomi

“… titik keseimbangan demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi modal terbesar Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.” (Wardhana, 2009)

–Juni 3, 2009–

Menarik sekali mencermati pandangan-pandangan kandidat capres dan cawapres mengenai konsep ekonomi yang ideal bagi kepentingan nasional. Beberapa poin yang bisa saya sampaikan dari hasil pemahaman pribadi antara lain:

Pertama, saya bangga sebagai anak bangsa karena kini para pemimpin bangsa kita sudah semakin dewasa. Perdebatan antar elit politik sudah memasuki hal-hal yang substansial dan fokus pada tujuan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Walaupun masih terlihat upaya menyerang lawan politik dari segi kepribadian, namun yang sangat menonjol di ruang publik adalah sikap saling mengkritisi konsep dan kebijakan yang kelak akan diadopsi oleh pasangan pemenang saat memerintah. Sehingga, kini, kita semakin akrab dengan istilah-istilah ekonomi. Lebih jauh lagi, kita semakin mengerti dengan alasan-alasan di balik penerapan suatu kebijakan pemerintah. Tentu saja proses ini sangat positif untuk mewujudkan demokrasi yang dewasa dan stabil secara berkesinambungan.

Hal kedua adalah, masalah ekonomi menjadi isu sentral dari retorika dan wacana yang dilontarkan para pasangan capres cawapres. Masing-masing pasangan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan kehebatan resep ekonomi mereka. Ada yang menawarkan kecepatan bertindak, ada yang menggelorakan isu ekonomi kerakyatan, dan tentu saja ada yang mengajak agar konsep yang ada dilanjutkan karena telah terbukti mengatasi masalah ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Lebih hebatnya lagi adalah naik kelasnya profesi ekonom, dari sebatas penjaga gawang kebijakan ekonomi fiskal dan moneter, kini menjadi ekonom-politisi yang memiliki kekuasaan lebih besar dalam mengeksekusi resep-resep ekonomi. Bahkan, kalau kita melihat catatan latar belakang profesi para presiden dan wakil presiden sejak dwi tunggal Sukarno Hatta*, baru pada tahun 2009 inilah nilai pasar seorang ekonom, diwakili oleh sosok Boediono, dianggap sebanding dengan nilai pasar jenderal, politikus, pengusaha, atau keturunan keluarga presiden.

Ketiga dan terakhir, saya semakin bangga lagi karena di tengah suasana panasnya pemilihan presiden, kondisi ekonomi tidak memburuk. Bahkan pasar menunjukkan sentimen positif terhadap perkembangan politik akhir-akhir ini. Hal ini tentu saja merupakan bukti dari semakin mapannya demokrasi Indonesia. Karena itu, saya optimis bahwa titik keseimbangan demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi modal terbesar Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.

Ayo maju bangsaku!

* Bung Hatta adalah ekonom-pejuang dan dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Pertanian Indonesia Maju, Bisa!

“Kebijakan pro-pertanian juga berarti bahwa pemerintah harus konsisten pada tata ruang rencana pembangunan pertanian.” (Wardhana 2008)

–Desember 24, 2008–

Perum Bulog akan memulai ekspor beras pada kuartal III 2009. Jika Indonesia telah memiliki surplus beras sebesar 5 juta ton, maka Bulog akan membidik Malaysia, Filipina, Timor Leste dan Brunei sebagai negara tujuan ekspor. Diperkirakan dengan beras kualitas super sebesar 1-1,5 juta ton, diperoleh devisa sebesar sampai dengan 750 juta dollar (8,29 trilyun rupiah). Demikian intisari paparan Mustafa Abubakar sebagaimana diliput di Harian Umum Kompas, 24 Desember 2008.

Tentu saja berita ini adalah sebuah kabar gembira bagi rakyat Indonesia. Sebuah prestasi pertanian yang membanggakan. Kita sudah berada di jalur yang tepat dalam membangun keunggulan pangan dan akan menjadi nomor 1 di ASEAN.

Namun ada beberapa hal yang penulis cermati dan usulkan agar kebijakan pangan ini menjadi sempurna.

Pertama, kebijakan pro pertanian yang konsisten dan berkelanjutan. Sehingga pertanian tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan ekonomi, bukan sektor yang dipinggirkan. Agar jumlah lahan pertanian tidak menyusut, berubah menjadi kompleks industri atau perumahan mewah. Supaya petani bisa menjadi pilihan pekerjaan yang menjamin masa depan generasi muda.

Baru-baru ini, wacana jalan tol se-Jawa hangat dibicarakan. Infrastruktur jalan raya tentu sangat mendukung pembangunan ekonomi. Namun kita juga tidak boleh menutup mata pada akibat buruk yang mungkin muncul pada sektor lain termasuk pertanian. Menurut teori kebijakan sektor publik, Pareto Improvement, sebuah kebijakan baru tidak boleh merugikan sektor-sektor yang sudah ada. Atau paling minim, kebijakan yang akan diberlakukan benar-benar ditimbang baik buruknya. Menurut saya, pilihan infrastruktur yang paling cocok bukan jalan tol, namun kereta api.

Dengan kereta api, tanpa menghancurkan hutan yang menjaga harmoni alam, tidak merusak lahan pertanian, dan tidak mengeluarkan biaya pembebasan lahan dan pembangunan jalan yang begitu fantastis jumlahnya. Selain terhindar dari bahaya banjir, menyusutnya lahan pertanian, dan utang luar negeri yang begitu besar, dengan kereta api kita semakin merangsang industri dalam negeri dan proyek energi yang lebih baik.

Kebijakan pro-pertanian juga berarti bahwa pemerintah harus konsisten pada tata ruang rencana pembangunan pertanian. Juga memberi dukungan sepenuhnya pada petani dalam bentuk penelitian benih unggulan, pemberantasan hama, pupuk, optimalisasi lahan, pendampingan, penyuluhan, penyaluran hasil tani dan promosi petani menjadi profesi yang menjanjikan. Belajar dari kondisi para petani di Jepang yang semakin lanjut usia dan kehilangan penerus dari generasi muda untuk menggarap lahan, pemerintah harus meningkatkan citra dan penghasilan petani.

Kedua, membangun pertanian non-beras dan peternakan penghasil bahan makanan pokok. Melihat kondisi pangan selain beras, kita patut bersedih. Indonesia masih menjadi importir gandum, bahan baku mie instan dan roti serta kedelai, bahan baku utama tempe dan tahu. Ditambah lagi dengan impor daging ayam, daging sapi, susu, bahkan jagung (benih jagung hibrida). Jika keadaan ini berkelanjutan, Indonesia akan semakin tergantung pada negara asing dan rawan pada fluktuasi harga dunia. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan semakin parah.

Untuk mengatasi masalah ini, semua pihak dikomandoi oleh Departemen Pertanian harus bertindak cepat dan terkoordinasi. Pemerintah daerah bersama dengan perusahaan daerah dan nasional bisa membangn kemitraan dengan petani. Universitas harus diberi insentif untuk fokus melakukan penelitian guna menghasilkan bibit dan benih terbaik. Kebijakan impor harus di-review kembali sehingga lebih pro-pertanian. Kita mesti all out membela kepentingan kita. Bagaimanapun, industri pertanian ini adalah hal vital bagi kelangsungan suatu negara. Sehingga wajar jika negara-negara majupun sangat protektif pada pertaniannya.

Ketiga, menghidupkan kembali konsep dan praktek transmigrasi dengan pendekatan baru. Nusantara yang begitu luas dan kaya ini harus dioptimalkan dengan penyebaran penduduk. Banyak daerah yang potensial namun kekurangan sumber daya manusia. Beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum memberangkatkan transmigran antara lain: lahan transmigrasi harus dibangun infrastrukturnya terlebih dahulu, di antaranya fasilitas perdagangan, pendidikan dan pemukiman yang layak. Kemudian, pelatihan pertanian modern juga diberikan kepada calon transmigran sebelum berangkat. Tak lupa, sosialisasi kepada masyarakat lokal tempat tujuan transmigrasi juga dilaksanakan untuk mencegah gesekan sosial.

Jika kebijakan transmigrasi ini berjalan baik, selain pertanian semakin maju, integritas wilayah juga akan terjaga. Daerah-daerah perbatasan akan berkembang pesat dalam aspek ekonomi dan sosial. Di tambah lagi, pengangguran dan kemiskinan akan tereduksi. Tanah tujuan transmigrasi menjadi A Dreamland yang menjanjikan.

Itulah tiga usulan penulis untuk kemajuan sektor petanian Indonesia. Saran masukan dari sahabat-sahabat semua sangat dinantikan. Jika bermanfaat, mohon usulan ini dipertimbangkan juga oleh para kandidat capres dan cawapres 2009 berikut calon menteri-menterinya.

Bravo petani! Bravo Indonesia!

Visi Baru Indonesia

“Jelas sekali pentingnya Indonesia hari ini memiliki visi baru. Karena tanpa visi, kita seperti orang yang tidak memiliki arah dan tujuan hidup. Bingung. Tanpa kejelasan. Tanpa gairah.” (Wardhana 2008)

–Juni 24, 2008–


Pentingnya Visi

Untuk meraih kesuksesan dan memberi nilai diri, seseorang harus memiliki visi atau tujuan hidup . Begitu pula sebagai sebuah bangsa. Visi founding fathers adalah mencapai kemerdekaan. Mereka berhasil memenuhi cita tersebut dengan berdirinya Republik Indonesia. Setelah merdeka, di bawah Presiden Sukarno kita memiliki Visi Revolusi dimana bangsa Indonesia menjadi inspirator sekaligus organisator untuk untuk memerdekakan bangsa-bangsa terjajah di dunia. Maka terjadilah Gerakan Non Blok diawali Konferensi Asia Afrika di Bandung yang amat bersejarah. Visi itu sukses dengan merdekanya puluhan negara jajahan tidak beberapa lama setelah itu. Kemudian sejenak kita kehilangan visi, maka terjadilah pergulatan dalam negeri menumbangkan Orde Lama menandai dimulainya Visi Pembangunan di bawah Presiden Suharto.

Visi Pembangunan pada awalnya membuat semua komponen masyarakat bergairah menjalankan roda perekonomian. Slogan “Menuju Indonesia Tinggal Landas” begitu populer dan memacu adrenalin anak-anak bangsa. Namun karena berbagai penyakit yang makin lama semakin parah menghinggapi Orde Baru seperti KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), pembungkaman masyarakat sipil, dan mencapai titik kulminasi pada krisis ekonomi 1997, akhirnya visi Orde Baru tersebut mati. Lalu mulailah Orde Reformasi.

Namun sayang sungguh sayang, Orde Reformasi ini tidak memiliki visi. Visi utama para arsitek orde ini adalah menjatuhkan Suharto. Kini, setelah Suharto lengser keprabon, pemerintahan saat ini seperti kehilangan arah dan tujuan, untuk alasan apa dan untuk menjadi apa bangsa besar ini dilahirkan oleh Allah di atas dunia ini.

 

Visi Baru Indonesia

Jelas sekali pentingnya Indonesia hari ini memiliki visi baru. Karena tanpa visi, kita seperti orang yang tidak memiliki arah dan tujuan hidup. Bingung. Tanpa kejelasan. Tanpa gairah. Berkubang pada pekerjaan-pekerjaan remeh temeh. Berdebat dan berkelahi karena alasan-alasan sederhana. Karena kita tidak memiliki visi bersama, visi besar milik semua.

Atau jika kita anggap, visi besar kita meraih kemerdekaan serta visi-visi lainnya telah tercapai, kita seolah-olah telah tiba pada final destination. Kita telah sampai di terminal akhir. Ibarat seorang manusia, kita telah menjadi seorang yang tua renta, menunggu ajal menjemputnya. Sepi dari impian besar. Jauh dari cita-cita.

Jika tidak ingin Indonesia hilang, tenggelam atau keberadaannya antara ada dan tiada, kita butuh visi Indonesia baru. Kita butuh visi yang menarik, dan menggairahkan. Kita butuh visi besar, sekarang juga.

Setelah melakukan perjalanan ke 5 negara yang menjadi deklarator ASEAN bersama Indonesia (Singapura, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Thailand dan Filipina), saya seperti mendapat pencerahan. Tentang visi Indonesia….

Visi dan mimpi yang saya tawarkan adalah, dalam waktu beberapa tahun kedepan, Indonesia harus mengembalikan wibawa utamanya di kawasan ASEAN. Tidak bisa tidak, Indonesia harus No.1 dalam berbagai hal! Kita mulai dari yang paling dekat dengan kita yaitu ASEAN. Bayangkan kita terdepan dari 9 negara lainnya.

 

Indonesia No. 1

Untuk itu, kita harus mulai dari hal yang sudah kita miliki, dari modal yang tidak kita sadari merupakan berkah buat kita. Antara lain adalah:

1. Modal pertama kita adalah daratan dan perairan. Sadarkah bahwa kita memiliki tanah yang begitu luas dan subur serta lautan yang sngat kaya? Modal ini akan menghasilkan produk utama dan mendasar bagi kehidupan manusia yaitu pangan. Dalam perang maupun damai, saat ini ataupun masa depan, kebutuhan akan bahan makanan akan selalu meningkat. Kita harus melipatgandakan seluruh upaya, dan sumber daya yang kita miliki untuk menjadikan sektor pangan menjadi prioritas utama. Oleh sebab itu, kita harus memfokuskan diri pada industri pertanian, peternakan, dan perikanan.

Sehingga kita bukan saja mampu swasembada pangan namun menjadi eksportir pangan No. 1 untuk ASEAN. Bukan Thailand Vietnam, atau yang lainnya. Dari Indonesia mengalir beras, kedelai, jagung, kacang-kacangan dan biji-bijian lainnya Juga buah dan sayuran, daging dan ikan serta bahan pangan lainnya. Bayangkan, pangan Made in Indonesia yang berkualitas tinggi membanjiri ASEAN. Semua negara ASEAN sangat tergantung pada Indonesia.

Pangan Indonesia No. 1!

2. Modal kedua kita adalah manusia. Sadarkah bahwa kita punya potensi sebanyak lebih dari 200 juta penduduk, yang siap mengubah wajah Indonesia? Jangan pernah lagi memandang jumlah penduduk yang sangat besar ini menjadi masalah, justru inilah kekuatan kita. Kita harus mengerahkan tenaga daya dan upaya kita untuk mempersiapkan, mendesain, dan mencetak tenaga kerja unggul. Dengan fokus pada pendidikan dan keterampilan sumber daya manusia untuk menghasilkan angkatan kerja yang profesional, berkarakter, berkapasitas global, maka bangsa Indonesia siap menjadi bangsa kelas profesional. Indonesia menjadi brand kelas atas, jaminan bagi perusahaan asing bahwa pekerja Indonesia amat sangat bisa diandalkan.

Tidak ada lagi cerita TKW yang dianiaya dan diperkosa majikan. Tidak ada lagi kasus TKI yang ditipu dan tidak dibayar gajinya. Tidak akan ada lagi TKW kelas babu. TKI kelas kambing. Yang ada hanyalah pekerja profesional Indonesia sebagai tenaga kerja terbaik di ASEAN. Terbaik dari segala segi: kualitas, komunikasi bahasa asing, gaji, dll. Saat Komunitas ASEAN berjalan efektif di tahun 2015, betapa menyenangkan menyaksikan bangsa kita menjadi bukan saja menjadi pekerja hotel, restoran, namun juga dosen, ustadz, akuntan, dokter, insinyur, bahkan pengusaha kecil sampai kelas kakap. Bayangkan betapa nikmatnya melakukan perjalanan di ASEAN, mudahnya makan makanan halal, gampangnya bertegur sapa menghilangkan rindu dengan kampung halaman….

Tenaga Kerja Indonesia No. 1!

3. Modal ketiga kita adalah alam dan budaya. Sadarkah bahwa negeri kita adalah zamrud khatulistiwa yang amat cantik nan menawan? Betapa indahnya alam kita dari sabang sampai Merauke. Betapa uniknya budaya ratusan suku yang kita miliki? Sudah saatnya kita melakukan pembenahan total industri pariwisata. Dimulai dari menjadikan Menko Perekonomian menjadi leader (bukan Menko Kesra), membangun organisasi solid, membenahi infrastruktur, sampai memasarkan dengan agresif industri ini. Semua jenis wisata kita jula, wisata alam, wisata kuliner, wisata budaya, dan wisata lainnya.

Bayangkan Indonesia menjadi tujuan utama wisatawan asing. Bukan 7 juta per tahun, bukan pula 12 juta tapi minimal 2 juta per bulan, total 24 juta wisman per tahun menyebar di ratusan titik wisata Indonesia. Bukan lagi Singapura, Maaysia atau Thailand yang disesaki wisman, namun Indonesia. Tidak saja Bali yang terkenal ke pelosok dunia, tidak ketinggalan Danau Toba, Borobudur, Bunaken, Senggigi, Biak, dan ratusan tempat wisata lainnya. Bayangkan betapa membanggakannya saat Indonesia menjadi The Truly ASEAN?

Pariwisata Indonesia No. 1!

Ayo Rebut Kembali!

Akhirnya, kisah betapa Indonesia dipandang sebelah mata di forum ASEAN hanya tinggal sejarah. Indonesia yang pada mulanya ASEAN berdiri merupakan kekuatan yang disegani, bahkan Sekretariat ASEAN berada di Jakarta, lalu kini seperti macan ompong akan kita akhiri dengan mengembalikan kekuatan sentral ASEAN adalah Jakarta, Indonesia. Jika kini dari berbagai segi, banyak kelemahan kita dibanding negeri-negeri jiran kita, akan kita kembalikan supremasi kita. Sekarang, di bidang ekonomi, kita tertinggal jauh dibelakang Malaysia, Singapura dan Brunei, di bidang militer kita semakin terpuruk dari kualitas alutsista (alat utama sistem pertahanan), di bidang pendidikan, penduduk kita yang sekolah ke negara tetangga berlipat-lipat kali dari penduduk mereka yang belajar ke Indonesia, nanti tidak akan lagi seperti demikian.

Bersama mari kita pertajam, perkuat, rundingkan, dan jangan lupa, wujudkan impian ini. Bravo Indonesia!