Tarnedi dan Supir Taksi PhD lulusan Stanford

tarnedi supir taksi

“Belajar adalah aktivitas untuk menunaikan amanah manusia sebagai pengelola alam semesta.” (Wardhana 2013)

–Desember 12, 2013–

Bagi Tarnedi (54 tahun), seorang supir taksi di Jakarta yang sedang populer beberapa hari ini, belajar bahasa Inggris merupakan kebutuhan dasar harian. Sebagaimana kita butuh makan dan minum, maka bercakap dan bernyanyi dalam bahasa Inggris juga merupakan kegiatan harian Tarnedi.

Berbeda dengan Tarnedi yang tidak tamat Sekolah Dasar, seorang supir taksi di Singapura adalah doktor lulusan Stanford. Chai Mingjie adalah seorang peneliti biologi yang kehilangan pekerjaan di tahun 2008.  Ming kemudian memutuskan untuk menjadi supir taksi.

Semangatnya untuk mengasah otak membuatnya rajin menuliskan catatan harian. Semula Ming menerbitkan tulisannya di internet, kemudian ia menerbitkan catatannya menjadi buku berjudul Diary of a Taxi Driver: True Stories from Singapore’s Most Educated Cabdriver yang dijual di Amazon.com.

Apa pelajaran dari kisah kedua supir taksi ini?

Pertama, belajar adalah aktivitas untuk menunaikan amanah manusia sebagai pengelola alam semesta. Sebagai manajer dan leader atas bumi dan seisinya, manusia harus selalu mencari tahu pengetahuan dan keterampilan baru agar dapat menjalankan amanah tersebut. Maka Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat, kemanapun dan bagaimanapun.

Sebuah potongan kalimat di ayat ke-11 dalam Surah Al Mujadilah memberikan penegasan atas posisi superior pada orang yang berilmu (yang sudah tentu dari proses belajar):

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Kedua, semangat belajar membuat kita menjadi manusia yang selalu ber-akhlak dan berpenampilan baik. Belajar membuat kita mengakui kelemahan diri dan rendah hati. Belajar membuat kita respek pada orang lain. Belajar membuat kita sadar bahwa kita memiliki banyak kekurangan. Belajar membuat kita selalu optimis. Selalu segar dan terbuka dengan gagasan baru.

Henry Ford berkata: “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young.”

Ford menyampaikan, jika tidak ingin tua, maka belajarlah ini mungkin sebabnya saya sering dikira mahasiswa S1 freshmen tahun pertama hehe.

Ketiga, semangat belajar hendaknya bukan hanya mengejar selembar ijazah. Gelar doktor  dan profesor (capaian tertinggi dalam proses belajar formal) tidak menghalangi kita terus belajar. Tidak tamat SD juga bukan alasan kita tidak belajar. Belajarlah untuk mengejar keterampilan, memperbaiki nasib di masa depan, serta untuk menemukan potensi terbaik kita.

Keempat, jika semua orang Indonesia memiliki semangat belajar seperti Tarnedi dan Ming, tidak lama lagi Indonesia akan menjadi negara maju dan makmur. Mengapa? Karena kemajuan bangsa-bangsa selalu diawali dari terbangunnya masyarakat yang berpengetahuan. Istilahnya modal sumber daya manusia (human capital).

Teori ekonomi dan penelitian empiris (sesuai kenyataan di lapangan) memeperlihatkan hubungan sebab akibat yang sangat jelas antara kualitas manusia dan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Banyak negara menjadi bukti bahwa sumber daya manusia, bukan bahan tambang serta minyak, yang mendorong kemakmuran. Kenapa? Karena manusia pembelajar akan terus menemukan hal-hal baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Inovasi dan teknologi di segala bidang diawali dari ide kecil manusia-manusia yang terus belajar.

Akhirnya, bagi para pengguna taksi, jangan underestimate atau memandang rendah supir taksi. Bisa-bisa mereka adalah seorang doktor seperti Ming atau kandidat doktor seperti saya. Bisa juga mereka adalah CEO yang sedang menyamar untuk survei kepuasan pelanggan. Bisa juga mereka adalah orang seperti Tarnedi yang selalu belajar dan layak disebut sebagai manusia super!

Apakah Pengadilan Independen?

ketok palu

“Apakah secara de facto pengadilan Indonesia sudah independen dari pemerintah yang berkuasa, politisi dan kelompok lainnya?” (Wardhana 2013)

–Desember 11, 2013–

Saat ini kita sedang disibukkan dengan debat pro kontra terkait putusan pengadilan atas seorang petinggi partai. Pihak yang pro putusan pengadilan menyampaikan bahwa vonis hakim sudah adil. Di lain pihak, pihak yang kontra vonis memandang pengadilan tidak independen.

Apakah independensi pengadilan itu?

Independensi adalah situasi dimana sebuah lembaga tidak tergantung pada pemerintah atau lembaga lainnya. Independensi pengadilan dalam menegakkan keadilan hukum di suatu negara dapat disamakan dengan independensi bank sentral dalam mengawal kebijakan moneter (moneter terkait dengan penerbitan mata uang, nilai tukar, suku bunga pinjaman tingkat dan inflasi yang di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia).

Independensi pengadilan berarti lembaga pengadilan tidak dipengaruhi oleh pemerintah yang berkuasa, politisi, dan pihak lainnya yang berkepentingan pada hasil pengadilan yang menguntungkan pihak mereka. Pengadilan yang independen idealnya akan menegakkan keadilan berdasarkan konstitusi dan hukum yang berlaku. Dalam hal, hakim memutuskan perkara yang belum diatur secara eksplisit, maka keputusannya diharapkan akan memihak untuk kemaslahatan terbaik dalam konteks kepentingan nasional dan publik.

Apakah independensi pengadilan penting?

Pengadilan yang independen sangat penting untuk keberlangsungan dan kemajuan suatu bangsa. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka semakin banyak masalah hukum yang harus diselesaikan. Jika suatu pengadilan independen dan tidak dapat dipengaruhi keputusannya, maka keadilan akan tegak. Keadilan yang terjamin akan mendorong hubungan antar manusia, antar lembaga dan antar negara.

Sebagai contoh, transaksi perdagangan akan meningkat pesat karena setiap pihak terjamin akan mendapatkan barang dan uang sesuai dengan kesepakatan antar penjual dan pembeli. Pemilik modal akan merasa aman untuk menginvestasikan dananya membangun pabrik dan memulai produksi dengan jaminan pengadilan yang independen. Berdasarkan data empiris (keadaan sebenarnya), negara-negara yang ekonominya maju diawali dengan sistem pengadilan yang independen.

Feld and Voigt (2013) memeriksa hubungan antara independensi pengadilan berdasarkan de jure (aturan tertulis) dan de facto (praktek sebenarnya) dengan pertumbuhan ekonomi di 75 negara. Mereka menemukan perbedaan independensi pengadilan antara de jure dan de facto dimana yang pertama memiliki seperangkat aturan independen secara tertulis sedangkan yang kedua menggambarkan praktek independensi yang sebenarnya.

Mereka menyimpulkan bahwa independensi pengadilan de facto yang dapat menjelaskan pertumbuhan ekonomi. Independensi pengadilan de facto memiliki hubungan signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Bagaimana dengan pengadilan di Indonesia?

Bagaimana independensi pengadilan Indonesia secara de jure? Apakah secara de facto pengadilan Indonesia sudah independen dari pemerintah yang berkuasa, politisi dan kelompok lainnya? Saya tunggu pandangan anda semua!

Fenomena Negara Maju dengan Empat Musim

“Penghargaan terhadap waktu merupakan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara iklim dengan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di dunia.” (Wardhana 2013)

–6 Des, 2013–

4 seasons

Hari ini dan esok, jalanan dan permukaan tanah di kota Dallas dipenuhi oleh es, bukan salju. Semua membeku diselimuti es termasuk pohon dan ranting. Praktis kantor dan sekolah ditutup, orang-orang berdiam diri di rumah.

Dari kejadian ini ada hal yang menggelitik saya. Kalau kita perhatikan ada fenomena unik mengenai persamaan negara-negara maju yaitu mereka memiliki 4 musim (subtropis) yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tidak umum bagi negara tropis yang hanya punya dua musim (musim hujan dan musim kemarau) seperti Indonesia untuk duduk di deretan negara maju. Pengecualian adalah tetangga kita Singapura.

Beberapa ekonom menghubungkan proses sebab-akibat antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui penyakit. Di negara tropis, penyakit mematikan sangat mudah menular, para investor menghindari tempat ini sehingga perkembangan ekonominya terhambat. Berbeda dengan negara subtropis yang lebih aman dalam konteks penyakit.

Ada juga ekonom yang mengaitkan antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui penghargaan terhadap waktu. Di negara 4 musim, masyarakatnya sangat peduli dengan waktu. Kalau mereka tidak menghitung waktu, mereka bisa mati, misalnya karena kurang persiapan untuk musim dingin (tanaman mati, jalanan tidak dapat dilalui, dll). Sementara penduduk negara tropis sangat cuek dengan waktu karena sepanjang tahun dapat bekerja tanpa jeda cuaca.

Melihat perkembangan penanganan penyakit di negara tropis yang cukup progresif, saya melihat hipotesis pertama dapat diabaikan. Secara khusus dengan mengamati Indonesia, saya lebih cenderung pada hipotesis kedua. Penghargaan terhadap waktu merupakan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara iklim dengan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di dunia.

Di negara maju, waktu sangat dihargai. Jadwal kereta di Tokyo, Jepang bukan 5.30 atau 6.30 namun 5.07, 6.32. Telat 1 menit ya bye bye, harus menanti 5-15 menit kereta selanjutnya. Dalam rapat-rapat di Amerika dan Eropa, jadwal sangat ketat. Mulai jam 5.30, maka mulai tepat 5.30 bukan dibuat molor menunggu yang hadir sampai jam 6.30 bahkan 7.30.

Bagaimana dengan penghargaan waktu di negeri kita? Kita semua tahu sendiri-lah tanpa perlu di-detil-kan. Makanya negara kita sangat terkenal sebagai “the rubber watch” alias si jam karet. Sebutan ini hanya puncak gunung es dari perilaku kita yang sangat tidak menghargai waktu. Akhirnya etik kerja dan produktivitas kita cenderung rendah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jika Indonesia ingin menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah dan kemiskinan enyah), kita harus memulai dengan satu kata: WAKTU. Hargai dan perlakukan waktu sebagai aset termahal. Hilangkan budaya JAM KARET. Hilangkan budaya INSYAA ALLAH ala Indonesia (untuk ngeles dan janji palsu). Mulai budaya TEPAT WAKTU. Mulai budaya KOMIT pada JANJI dan WAKTU.

Apakah bisa? Tentu bisa. If you think we can, we can!

Rupiah Lemah dan Momentum Ekspor Indonesia

“… dengan membuat Yuan lemah maka barang made in China bisa membanjiri dunia.” (Wardhana 2013)

–Des 3, 2013–

rupiah vs dollar
Melemahnya nilai tukar rupiah boleh saja diratapi oleh sebagian kalangan karena akan menyebabkan berbagai kesulitan ekonomi. Secara teknis, rupiah yang melemah terhadap dolar menyebabkan utang pemerintah dan swasta dalam bentuk mata uang asing melonjak jika di-rupiah-kan. Jika sebelumnya utang Rp 10 juta pada kurs 1 dolar = 10 ribu rupiah, maka sekarang utang berjumlah Rp 12 juta pada kurs 1 dolar = 12 ribu rupiah.

Namun di lain pihak, kondisi ini akan sangat menguntungkan bagi kalangan yang mengekspor barang Indonesia ke luar negeri. Jika sebelumnya harga barang Rp 10 juta = 1000 dolar, maka sekarang harga barang menjadi 833 dolar. Tentu saja barang dengan harga lebih murah (kualitas sama) akan sangat diminati.

Inilah rahasia mengapa China begitu ngotot mempertahankan kurs nilai tukar Yuan agar selalu lebih rendah dari yang seharusnya terhadap dolar. Mereka adalah ekonomi berbasis ekspor sehingga dengan membuat Yuan lemah maka barang made in China bisa membanjiri dunia.

Hendaknya pemerintah membuka keran ekspor seluas-luasnya dengan berbagai kemudahan bisnis, pembiayaan, dan edukasi. Jika ini momentum untuk mendirikan lagi Bank Pembangunan, ayo silakan digarap. Bisa juga membesarkan lembaga penjamin pembiayaan ekspor yang sudah ada. Permudah jangan dipersulit. Jangka panjangnya, dengan eksportir yang maju, pengangguran berkurang, kemiskinan punah, dan bangsa menjadi kuat. Kembali China sebagai contoh model ini.

Akhirnya sebagai penutup, mari kita camkan kalimat berikut. Daripada menangisi keadaan, lebih baik menikmatinya.

Australia-Indonesia: Antara Sahabat dan Tetangga

“Mungkin kita tidak bisa memilih tetangga tetapi kita selalu memiliki kebebasan memilih sahabat.” (Wardhana 2013)

— Des 3, 2013–

australia indonesia map

Saya sependapat dengan pandangan Anies Baswedan (Antara, 3 Desember 2013) bahwa:

“Saya kira, Indonesia-Australia itu bukan negara sahabat, melainkan negara tetangga yang hubungan keduanya perlu dibangun dengan cara-cara beradab. Abbott itu mirip anak TK, karena pelajaran pertama anak TK adalah minta maaf. Kalau tidak mau minta maaf berarti kalah dari anak TK.”*

Menurut saya, hubungan sahabat adalah kesetaraan dan reciprocity (timbal balik). Kesalahan dalam persahabatan itu hal biasa. Namun kalau salah satu pihak merasa lebih hebat dan digdaya, angkuh, dan memandang remeh pihak lain, ketegasan diperlukan. Hubungan sahabat bisa saja diputuskan dalam konteks ini. Walaupun kedua belah pihak tetap bertetangga namun tidak menjadi sahabat.

Jangan pernah kuatir kehilangan satu sahabat karena prinsip tegas dan harga diri. Walaupun sahabat berkurang, namun yang didapat adalah sahabat yang lebih loyal dan terpercaya.

Secara praktis, jangan takut kesulitan mengimpor daging sapi. Indonesia bisa mengimpor dari Selandia Baru dan Amerika Latin. Sapi di Pulau Sulawesi juga berlimpah namun kesulitan infrastruktur untuk perdagangan ke Pulau Jawa menurut Jusuf Kalla (2013).

Menurut hitungan saya, kehilangan persahabatan Indonesia-Australia akan membawa kerugian lebih besar kepada Australia. Dia semakin tergantung pada Amerika Serikat di seberang sana dalam “menghadang” China. Dia akan kebanjiran pengungsi dan manusia perahu. Dia akan kehilangan pasar sebesar 250 juta orang.

Bagaimana hibah dana beasiswa yang mencapai 500 orang di level master dan doktoral per tahun kepada sarjana Indonesia? Memang ini kerugian untuk pembangunan SDM kita. Namun masih banyak hibah dari negara lain serta dukungan perusahaan yang bisa dimanfaatkan. Bahkan salah satu lembaga pemerintah Indonesia mengklaim dapat membiayai ribuan pelajar Indonesia setiap tahun ke luar negeri.

Hikmah kasus ini dapat diperas dalam satu kalimat. Mungkin kita tidak bisa memilih tetangga, tapi kita selalu memiliki kebebasan memilih sahabat.

Depresiasi Rupiah: Momentum Kebangkitan Industri

Bisnis Indonesia

–18 Juli 2013–

Tulisan Bisnis Indonesia

Buku-buku teks ekonomi mengajarkan bahwa depresiasi mata uang meningkatkan daya saing produk suatu negara terhadap produk asing karena faktor harga.

Karena itulah, kisah pemulihan ekonomi berbagai negara pada masa kini dan masa lalu memanfaatkan peluang depresiasi mata uang sebagai jalan cepat perbaikan ekonomi.

Negara-negara berorientasi ekspor juga tidak menyia-nyiakan peluang depresiasi mata uang karena produk mereka dapat menghantam kompetitor.

Tak pelak, China secara konsisten mengadopsi kebijakan mematok mata uangnya lebih rendah dari nilai relatif dibanding mata uang dunia sehingga barang-barang made in China menguasai dunia.

Dalam konteks ini, depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sedang terjadi seharusnya memberi dampak positif terhadap industri dan perekonomian Indonesia.

Karena produk buatan Indonesia menjadi lebih murah dibandingkan produk sejenis buatan asing, maka produsen dalam negeri memperoleh peluang emas untuk meningkatkan volume ekspor dan memenangkan persaingan di dalam negeri.

Imbas positif depresiasi rupiah turut dinikmati oleh produsen jasa domestik. Dengan rupiah yang murah, pengguna layanan jasa khususnya di sektor pariwisata, pameran, kesehatan, dan sektor jasa lainnya akan menjadikan Indonesia sebagai pilihan utama.

Namun sayang, depresiasi rupiah yang telah menembus angka psikologis Rp 10.000 per dolar AS tidak membawa dampak positif seperti yang diharapkan.

Otoritas moneter merespon pelemahan rupiah dengan melakukan intervensi mengakibatkan cadangan devisa kian hari kian menipis sampai menyentuh angka di bawah US$100 juta.

Kalangan pengusaha dalam negeri juga menyampaikan tanggapan yang kurang menggembirakan terhadap akibat pelemahan rupiah.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga jerat yang melilit ekonomi dan perindustrian sehingga Indonesia tidak dapat menikmati dampak positif depresiasi rupiah.

Pertama, jerat ketergantungan akut terhadap produk impor di sektor rumah tangga dan industri. Sebagai ilustrasi, dominasi asing pada produk holtikultura sangat besar karena lonjakan permintaan beriringan dengan stagnasi industri pertanian nasional.

Kemudahan impor dan murahnya harga produk pangan impor mengurangi insentif untuk mencapai kemandirian industri pangan nasional. Akibatnya, harga produk pangan utama melambung pada saat nilai tukar rupiah melemah.

Kedua, jerat dominasi bahan baku impor pada produk buatan dalam negeri. Ironisnya, bahan baku impor itu berasal dari bahan mentah Indonesia seperti karet alam.

Setelah produsen luar negeri memroses bahan mentah Indonesia menjadi barang setengah jadi, barang tersebut kemudian diekspor ke Indonesia sebagai bahan baku.

Kondisi ini menggambarkan kelemahan industri nasional dalam mengolah barang mentah menjadi produk lanjutan dan produk akhir.

Ketiga, jerat ekonomi biaya tinggi. Buruknya kualitas infrastruktur, birokrasi dan layanan publik, pungutan liar dan lemahnya penegakan hukum, tingginya suku bunga pinjaman serta kombinasi berbagai faktor lainnya menjadikan industri di Indonesia harus menanggung ekonomi biaya tinggi (high cost economy).

Biaya-biaya ekstra yang dikeluarkan pengusaha tersebut tentu saja dialokasikan pada harga produk sehingga harga produk dalam negeri tidak kompetitif.

Dalam konteks ini, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dari 5.75% menjadi 6.5% (periode13 Juni dan 11 Juli 2013) menjadi beban ekonomi tambahan bagi pengusaha domestik.

Kenaikan BI Rate ini akan diikuti oleh sektor perbankan dengan mengerek tingkat suku bunga pinjaman yang berdampak pada meningkatnya ongkos pembiayaan sehingga dapat menurunkan investasi, konsumsi dan ekspansi industri dalam negeri.

Momentum Kebangkitan

Di sisi lain, pemetaan jerat-jerat ekonomi dalam kondisi depresiasi rupiah dapat dijadikan momentum untuk membangkitkan industri nasional.

Pertama, momentum untuk membangun industri pangan nasional. Dalam kondisi ketergantungan pangan impor dengan harga yang semakin mahal akibat pelemahan rupiah, produk holtikultura dalam negeri memiliki peluang menjadi tuan di negeri sendiri.

Berbagai terobosan antara lain dari segi permintaan, pemerintah mendorong penggunaan bahan pangan lokal dan nasional melalui kampanye dan edukasi massif. Industri pangan pengguna bahan baku pangan lokal diberikan insentif perpajakan.

Dari segi penawaran, pemerintah memberi insentif perpajakan, dukungan pembiayaan, dan bimbingan teknis kepada petani, peternak dan kalangan industri untuk meningkatkan produksi pangan nasional seperti pembangunan food estate dengan memanfaatkan lahan menganggur yang dimiliki pemerintah dan BUMN/BUMD.

Selain itu juga, pemberian fasilitas kepada universitas dan lembaga riset untuk meningkatkan kualitas produk pangan nasional.

Kedua, momentum membangun industri pengolahan bahan mentah. Dari segi penawaran, pengenaan pajak ekspor (PE) atas barang mentah dipertahankan dan diperluas.

Pemberian insentif perpajakan dan dukungan pembiayaan kepada industri pengolahan bahan mentah dan memberikan disinsentif terhadap industri yang berorientasi ekspor bahan mentah.

Dari segi permintaan, pemerintah dapat mendorong penggunaan produk dalam negeri dalam proses pengadaan barang dan jasa seperti persyaratan 100% komponen lokal (buy Indonesia).

Ketiga, momentum untuk memangkas ekonomi biaya tinggi. Penyediaan infrastruktur jalan raya, pelabuhan, listrik dan infrastruktur dasar lainnya dan reformasi layanan publik untuk memangkas waktu dan biaya pengurusan perizinan harus menjadi prioritas utama.

Pemangkasan ekonomi biaya tinggi ini dapat menggunakan benchmark laporan Doing Business yang rutin dipublikasikan oleh World Bank setiap tahun, dimana peringkat Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Akhirnya, momentum-momentum tersebut akan berlalu begitu saja jika para pemangku kepentingan hanya berpangku tangan.

Apalagi menjelang Pemilihan Umum 2014, isu ini dapat mudah tenggelam di antara isu-isu lain yang lebih menarik.  Namun, terlepas dari siapapun yang akan memimpin negeri ini, industri yang kuat akan menjadi modal Indonesia untuk bertahan dalam kompetisi global.

Karena persaingan ekonomi antarbangsa bukan kompetisi pemerintah, melainkan pertarungan industri dan perusahaan.

Penulis adalah Irwanda Wisnu Wardhana, mahasiswa PhD University of Texas, AS

Gapai Cita-cita Setinggi Langit

“Fisik boleh kere tapi jiwa harus seperti Raja merdeka.” (Wardhana 2013).

–April 29, 2013–

cita-cita

Adik-adik sekalian yang punya cita-cita tinggi menjulang ke langit namun tidak didukung karena orang tua miskin, jangan menyerah!

Selalu belajar tak kenal lelah, bermimpi tak kenal kecewa. Allah swt tidak pernah tidur dan lupa pada hamba-hamba-Nya yang selalu berjuang dan bekerja untuk menggapai kebaikan.

Saat ini banyak sekali bantuan pendidikan mengalir dari banyak pintu, pemerintah maupun swadaya masyarakat. Miliki keyakinan, jiwa pejuang, dan kerja keras untuk menjemput rezeki. Fisik boleh kere tapi jiwa harus seperti Raja merdeka.

Man jadda wa jada!

Pilih Dijajah Inggris atau Belanda?

” … kita memang selalu harus bersyukur plus belajar untuk mengerti hikmah dari setiap peristiwa, termasuk penjajahan.” (Wardhana 2013)

–Maret 28, 2013–

Evolution_of_the_Dutch_East_Indies

Semula saya selalu beranggapan bahwa jika Indonesia dijajah oleh Inggris, kondisi kita akan jauh lebih baik. Ternyata setelah membuka-buka lembaran sejarah dan membanding-bandingkan, saya bersyukur Indonesia “mendapatkan” penjajah Belanda. Mengapa? Minimal ada 3 alasannya:

1. Belanda menerapkan sentralisasi yang mengikat ribuan pulau, ratusan suku bangsa, ratusan dialek, dan berbagai agama. Sejak awal multikulturalisme yang ada dibiarkan saja, tanpa direkayasa. Berbeda dengan British India yang menerapkan segregasi berdasarkan agama. Akhirnya, Indonesia lahir sebagai 1 negara, sementara India terbagi menjadi Pakistan dan India (plus Bangladesh) yang sampai sekarang menjadi musuh bebuyutan.

2. Belanda mempromosikan Bahasa Melayu sebagai bahasa kedua karena tidak ingin Dutch dikuasai oleh pribumi. Akibatnya kita punya bahasa nasional pemersatu. Bandingkan dengan Pakistan dan Bangladesh yang berperang dan pecah karena masalah pemaksaan Urdu sebagai bahasa nasional.

3. Belanda bersungguh-sungguh dan berkonsentrasi mendapatkan semua pulau di Indonesia dengan mengusir semua penjajah lain. Hanya Pulau Solor Timur (Timor Leste) yang tidak bisa direbut dari Portugis. Kalau bukan karena komitmen Belanda, kemungkinan besar akan terdapat banyak negara di kepulauan nusantara. Contohnya di Afrika.

Anda boleh setuju, boleh juga tidak atas interpretasi sejarah yang saya tulis ini. Namun intinya, kita memang selalu harus bersyukur plus belajar untuk mengerti hikmah dari setiap peristiwa, termasuk penjajahan…. Wallahu a’lam

Antara Parpol dan Kudeta Militer

“Semoga gonjang ganjing parpol tidak menjadi huru hara. Kita doakan bersama agar setiap parpol menjadi semakin matang dan kuat.” (Wardhana, 2013)

–Februari 7, 2013

Terlepas dari drama gonjang ganjing parpol di Indonesia yang semakin menarik ditonton hari demi hari, kita masih bersyukur pada 3 hal:

1. Parpol dan pemerintahan BELUM dikuasai oleh keluarga (Partai penguasa dan Kabinet India dikuasai oleh keluarga Nehru-Indira sejak merdeka tahun 1947).

2. Persaingan antar parpol BELUM menjadi pertikaian antar keluarga atau personal (Perseteruan pribadi antara 2 wanita -Zia dan Hasina- selama 20 tahun terakhir membahayakan Bangladesh).

3. Carut marut politik dan penegakan hukum BELUM menjadi alasan militer untuk kudeta pemerintahan sipil (Huru hara politik Pakistan sejak merdeka diwarnai oleh kudeta para jenderal dengan alasan menyelamatkan negara).

Semoga gonjang ganjing parpol tidak menjadi huru hara. Kita doakan bersama agar setiap parpol menjadi semakin matang dan kuat.

Sehingga: Tidak ada partai milik keluarga si anu. Tidak ada pemimpin parpol A dendam kesumat dengan pemimpin parpol B. Dan tidak ada jenderal yang mengambil alih pemerintahan sah.

Mari bersama jaga masa depan Indonesia!