Mendapatkan Beasiswa Kampus Mudah

Mendapatkan Beasiswa Kampus 1

Banyak sekali pertanyaan yang saya terima mengenai topik sebelumnya sehingga saya kira lebih efisien untuk menjawab dengan membuat diagram dan video di bawah ini.

Beasiswa kampus ini adalah salah satu rahasia mengapa banyak sekali mahasiswa asal India dan China yang berada di Amerika. Jika ada 10 posisi beasiswa di 10 program pada 100 universitas di Amerika, maka jumlah mahasiswa asing sudah mencapai 10.000 orang. Padahal jumlah program dan universitas berlipat-lipat dari itu. Sayang, orang Indonesia belum banyak tahu dan juga kurang percaya diri menoba kesempatan ini.

Intinya, mendapatkan beasiswa kampus itu mudah. Asalkan didukung oleh persiapan yang memadai. Walaupun tidak lancar berbahasa Inggris secara verbal dengan lancar, jangan kuatir asalkan tes bahasa Inggris (TOEFL/IELTS) dengan skor minimum telah dicapai. Persiapkan juga GRE. Walaupun skor GRE lebih rendah dari yang diharuskan, boleh saja dicoba melamar ke profesor di universitas yang ingin kita tuju. Jika yang bersangkutan tertarik dengan wajah riset anda, maka akan ada keringanan yang diberikan.

Jika tidak ada jawaban dari seorang profesor, jangan patah semangat. Masih banyak akademisi di luar sana yang menanti kehadiran anda untuk membantu risetnya. Makanya pastikan bahwa anda telah menghubungi profesor yang memiliki bidang riset yang sama dengan yang anda kerjakan sekarang.

Akhirnya, setelah berikhtiar, sempatkan berdoa. Juga minta bantuan doa dari orang-orang terdekat yang mencintai anda. Selanjutnya, biarkan takdir Tuhan datang menjemput.

Ohya, tips ini bukan saja untuk PhD, master juga bisa. Walaupun kebanyakan beasiswa diberikan kepada PhD students.

Apa yang saya sampaikan bisa berbeda dengan kawan lain yang telah mendapatkan beasiswa PhD dari kampusnya masing-masing. Yang saya tuliskan dan ceritakan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Semoga membantu kawan-kawan semua.

Selamat memburu beasiswa kampus di luar negeri.

Bahasa Inggris Jelek bisa PhD di Amerika

“Saya melihat langsung banyak mahasiswa asing yang tidak bisa bahasa Inggris lisan tapi mendapatkan beasiswa dari kampus dengan bekerja sebagai RA (Research Assistant) dan TA (Teaching Assistant). Bahkan di antara mereka (TA) ada yang mengajar dengan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan.” (Wardhana 2013)

-Januari 9, 2014-

Siang ini (9 Januari 2014) saya bertemu dengan Kepala Program yang sekaligus pembimbing riset doktoral saya. Setelah menandatangani surat-surat yang saya butuhkan untuk menjalankan riset di tanah air, serta memuji perkembangan studi dan riset saya ceile, dia tiba-tiba meminta saya dalam bahasa gaul:

“Ajak dong kawan-kawanmu ke sini. Kita butuh mahasiswa internasional. Tidak masalah jika nilai verbal dalam GRE-nya rendah. Yang penting kuantitatif-nya bagus. Nanti setelah di sini akan menguasai bahasa Inggris dengan cepat juga.”

Dalam hati saya “Wah profesor cantik ini nyindir rupanya, karena kemampuan bahasa saya gak ok. Tapi ya senang juga dianggap nilai kuantitatif (alias matematika) tinggi karena dua kali tes GRE hasilnya gak bagus-bagus amat sih”.

“Ok-lah prof, saya coba nanti pasarkan program ini ke teman-teman.”

Terus dia cerita agak panjang tentang seorang PhD yang baru lulus yang juga berasal dari Indonesia dan sebelumnya akan dipekerjakan menjadi staf pengajar.

“Sayang sekali si A tidak jadi ke sini. Kami terlambat memberikan jawaban, akhirnya dia ke Singapura. Padahal saya sudah ok banged ama si doi.”

Setelah saya sampaikan saya masih ber-email ria dengan si A, prof saya bilang: “Wah, dibujuk aja supaya nanti dia pindah ke sini”.

Dia juga menyampaikan terdapat pendanaan untuk mahasiswa/i doktoral di kampus.

Sebelum dia ngomong lebih panjang lagi, saya langsung undur diri untuk menyembunyikan suara yang serak-serak basah karena batuk berdahak.

Nah, apa inti cerita saya ini?

#1. Kualitas mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa asing lainnya bahkan mahasiswa Amerika Serikat sendiri. Kinerja kita sebagai insan pembelajar dapat memukau akademisi di universitas kelas dunia. Sebagai sample adalah teman saya si A dan saya sendiri.

#2. Masalah kemampuan berbahasa Inggris memang masih menjadi sebab rendahnya partisipasi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tetapi sebenarnya kita tidak jelek-jelek amat dibandingkan dengan negara lain. Saya melihat langsung banyak mahasiswa asing yang tidak bisa bahasa Inggris lisan tapi mendapatkan beasiswa dari kampus dengan bekerja sebagai RA (Research Assistant) dan TA (Teaching Assistant). Bahkan di antara mereka (TA) ada yang mengajar dengan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan.

#3. Selain kemampuan berbahasa, kelemahan kita pada umumnya adalah kepercayaan diri. Kita sering menilai diri kita lebih rendah dari kemampuan seharusnya. Mungkin niatnya rendah hati tapi terlanjur menjadi rendah diri dan menjadi krisis pede. Padahal kita itu lebih baik dari yang kita kira (we are bigger than what we think we are). Jadi mari dibangun percaya diri dan semangat juara.

Akhirnya saya sampaikan di sini, silakan hubungi saya jika teman-teman ingin melanjutkan studi doktoral di kampus saya. Inshaa Allah, akan saya hubungkan dengan profesor saya dan semoga bisa dapat pendanaan. Ditunggu ya!

Catatan:

GRE adalah singkatan dari Graduate Record Examination yang merupakan tes standar dan diperlukan bagi pelamar program pascasarjana (master dan doktoral). Materi tesnya meliputi kuantitatif (matematika) dan verbal (bahasa). Nilai tes ini dipercaya menjadi alat prediksi keberhasilan seseorang dalam menjalankan studi.

Tarnedi dan Supir Taksi PhD lulusan Stanford

tarnedi supir taksi

“Belajar adalah aktivitas untuk menunaikan amanah manusia sebagai pengelola alam semesta.” (Wardhana 2013)

–Desember 12, 2013–

Bagi Tarnedi (54 tahun), seorang supir taksi di Jakarta yang sedang populer beberapa hari ini, belajar bahasa Inggris merupakan kebutuhan dasar harian. Sebagaimana kita butuh makan dan minum, maka bercakap dan bernyanyi dalam bahasa Inggris juga merupakan kegiatan harian Tarnedi.

Berbeda dengan Tarnedi yang tidak tamat Sekolah Dasar, seorang supir taksi di Singapura adalah doktor lulusan Stanford. Chai Mingjie adalah seorang peneliti biologi yang kehilangan pekerjaan di tahun 2008.  Ming kemudian memutuskan untuk menjadi supir taksi.

Semangatnya untuk mengasah otak membuatnya rajin menuliskan catatan harian. Semula Ming menerbitkan tulisannya di internet, kemudian ia menerbitkan catatannya menjadi buku berjudul Diary of a Taxi Driver: True Stories from Singapore’s Most Educated Cabdriver yang dijual di Amazon.com.

Apa pelajaran dari kisah kedua supir taksi ini?

Pertama, belajar adalah aktivitas untuk menunaikan amanah manusia sebagai pengelola alam semesta. Sebagai manajer dan leader atas bumi dan seisinya, manusia harus selalu mencari tahu pengetahuan dan keterampilan baru agar dapat menjalankan amanah tersebut. Maka Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat, kemanapun dan bagaimanapun.

Sebuah potongan kalimat di ayat ke-11 dalam Surah Al Mujadilah memberikan penegasan atas posisi superior pada orang yang berilmu (yang sudah tentu dari proses belajar):

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Kedua, semangat belajar membuat kita menjadi manusia yang selalu ber-akhlak dan berpenampilan baik. Belajar membuat kita mengakui kelemahan diri dan rendah hati. Belajar membuat kita respek pada orang lain. Belajar membuat kita sadar bahwa kita memiliki banyak kekurangan. Belajar membuat kita selalu optimis. Selalu segar dan terbuka dengan gagasan baru.

Henry Ford berkata: “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young.”

Ford menyampaikan, jika tidak ingin tua, maka belajarlah ini mungkin sebabnya saya sering dikira mahasiswa S1 freshmen tahun pertama hehe.

Ketiga, semangat belajar hendaknya bukan hanya mengejar selembar ijazah. Gelar doktor  dan profesor (capaian tertinggi dalam proses belajar formal) tidak menghalangi kita terus belajar. Tidak tamat SD juga bukan alasan kita tidak belajar. Belajarlah untuk mengejar keterampilan, memperbaiki nasib di masa depan, serta untuk menemukan potensi terbaik kita.

Keempat, jika semua orang Indonesia memiliki semangat belajar seperti Tarnedi dan Ming, tidak lama lagi Indonesia akan menjadi negara maju dan makmur. Mengapa? Karena kemajuan bangsa-bangsa selalu diawali dari terbangunnya masyarakat yang berpengetahuan. Istilahnya modal sumber daya manusia (human capital).

Teori ekonomi dan penelitian empiris (sesuai kenyataan di lapangan) memeperlihatkan hubungan sebab akibat yang sangat jelas antara kualitas manusia dan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Banyak negara menjadi bukti bahwa sumber daya manusia, bukan bahan tambang serta minyak, yang mendorong kemakmuran. Kenapa? Karena manusia pembelajar akan terus menemukan hal-hal baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Inovasi dan teknologi di segala bidang diawali dari ide kecil manusia-manusia yang terus belajar.

Akhirnya, bagi para pengguna taksi, jangan underestimate atau memandang rendah supir taksi. Bisa-bisa mereka adalah seorang doktor seperti Ming atau kandidat doktor seperti saya. Bisa juga mereka adalah CEO yang sedang menyamar untuk survei kepuasan pelanggan. Bisa juga mereka adalah orang seperti Tarnedi yang selalu belajar dan layak disebut sebagai manusia super!

Topeng Monyet Jokowi

“Semoga politisi lain akan berlomba untuk menyajikan ide segar dan kreatif yang pada akhirnya akan membawa kesejahteraan, kebaikan, dan kemaslahatan buat para pemilih a.k.a. rakyat jelata.” (Wardhana, 2013)

–Oktober 24, 2013–

topeng_monyet_by_andy_yoes

Menjelang Pemilu 2014, semua politisi akan berusaha keras menemukan ide untuk mencuri perhatian media dan publik. Ada yang pakai pernyataan keras menusuk lawan, ada yang melawat luar negeri, ada yang mengunjungi korban musibah, dll.

Terlepas dari perasaan suka tidak suka secara personal, kita harus akui bahwa manuver Jokowi memang cerdas. Saya tidak pernah kepikiran isu eksploitasi topeng monyet selama lebih dari 10 tahun tinggal di seputaran Ibukota. Malah pernah ikutan jadi penonton ketika ada pawang yang datang dekat rumah (maaf ya monyet, saya kurang mengerti perasaan kalian).

Kini isu monyet ini menjadi sentral pemberitaan media. Sederhana, namun menunjukkan kepada publik seolah:”Hei lu pade, ke monyet aja gue perhatian, apalagi ke lu pade, manusia”. Sederhana namun mengena.

Apapun motifnya, model kampanye begini cerdas dan menghibur. Semoga politisi lain akan berlomba untuk menyajikan ide segar dan kreatif yang pada akhirnya akan membawa kesejahteraan, kebaikan, dan kemaslahatan buat para pemilih a.k.a. rakyat jelata.

Antara Parpol dan Kudeta Militer

“Semoga gonjang ganjing parpol tidak menjadi huru hara. Kita doakan bersama agar setiap parpol menjadi semakin matang dan kuat.” (Wardhana, 2013)

–Februari 7, 2013

Terlepas dari drama gonjang ganjing parpol di Indonesia yang semakin menarik ditonton hari demi hari, kita masih bersyukur pada 3 hal:

1. Parpol dan pemerintahan BELUM dikuasai oleh keluarga (Partai penguasa dan Kabinet India dikuasai oleh keluarga Nehru-Indira sejak merdeka tahun 1947).

2. Persaingan antar parpol BELUM menjadi pertikaian antar keluarga atau personal (Perseteruan pribadi antara 2 wanita -Zia dan Hasina- selama 20 tahun terakhir membahayakan Bangladesh).

3. Carut marut politik dan penegakan hukum BELUM menjadi alasan militer untuk kudeta pemerintahan sipil (Huru hara politik Pakistan sejak merdeka diwarnai oleh kudeta para jenderal dengan alasan menyelamatkan negara).

Semoga gonjang ganjing parpol tidak menjadi huru hara. Kita doakan bersama agar setiap parpol menjadi semakin matang dan kuat.

Sehingga: Tidak ada partai milik keluarga si anu. Tidak ada pemimpin parpol A dendam kesumat dengan pemimpin parpol B. Dan tidak ada jenderal yang mengambil alih pemerintahan sah.

Mari bersama jaga masa depan Indonesia!

Kenapa Harus Indonesia (Puisi)

–Nopember 22, 2008–

Aku selalu bertanya
Kenapa terlahir dengan berkulit coklat
Berambut gelap
Dengan bola mata hitam

Aku selalu bertanya
Mengapa memakan nasi
Menyukai lalapan
Meminum es cincau

Aku selalu bertanya
Mengapa terlahir di negeri seribu pulau
Yang setiap hari terancam
Seribu satu bencana

Aku selalu bertanya
Kenapa berada di negeri aneh
Terkorup se-Asia
namun tidak satupun dihukum mati karenanya

Aku selalu bertanya
Kenapa harus Indonesia
Yang ditakdirkan
Untuk hidupku

Aku selalu bertanya
Kenapa aku tidak terlahir
di Eropa atau Amerika
Bukan pula Arabia

Aku selalu bertanya
Dan perlahan kutemukan
Bisikan
Kuharap jawaban-Nya

Bahwa Takdir-Nya
Skenario-Nya
Titah-Nya
Kepadaku

“Tanah perjuanganmu
Bukan di mana-mana
Tidak jauh-jauh
Melainkan sangat dekat

Indonesia adalah medanmu
Berjuanglah di atas buminya
Penuhilah takdir-Nya
Jadilah pahlawan di jalan-Nya

Aku selalu bertanya
Kini telah kutemukan
Jawaban-Nya

Ya Allah Tuhanku
Jadikan aku
Pejuang di jalan-Mu
di dunia
di Indonesia