Tentang Irwanda Wisnu Wardhana

PhD in Public Policy and Political Economy

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 11.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 4 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Mau Golput di April 2014?

Daftar Partai Peserta Pemilu 2014 sesuai nomor urut

Sebentar lagi Pemilu. Mari kita sisihkan waktu mulai sekarang untuk mengevaluasi partai politik serta para caleg di dapil masing-masing. Juga kandidat capres.

Berikut dialog imaginer saya dengan beberapa orang yang berencana tidak menyoblos alias golput:

“Ah, saya khan cuma sumbang satu suara? Gak ada gunanya.” Benar satu suara tidak bisa menyumbang satu kursi dewan atau kursi presiden. Tapi bayangkan kalau setiap orang berpikir demikian, apa yang terjadi? Bayangkan kalau anda yang baik dan jujur tidak memilih perwakilan yang baik dan jujur di dewan dan di istana negara, apa yang terjadi? Bukan 5 tahun efeknya namun puluhan tahun bahkan masa depan Indonesia dipertaruhkan!

“Demokrasi haram dan bid’ah makanya saya golput!” Okay silakan jika berpandangan demikian. Kalau begitu kenapa menggunakan bank, asuransi? Itu bid’ah loh. Terus kenapa sekolah dari SD sampai PT? Itu gak ada di zaman Rasul loh.

“Demokrasi khan dari Barat!” Trus, semua yang dari Barat haram? Rasul saja meniru teknologi Barat (contoh Perang Parit-Khandaq, dll).

“Hukum sudah sepenuhnya dari Al Qur’an, kita haram membuat hukum.” Okay. Namun negara bukan hanya kaum muslimin saja khan? Rasul saja dulu membuat UUD Piagam Madinah. Kenapa tidak pakai Al Qur’an untuk semua agama di Madinah saat itu?

“Ah saya mau golput aja alias tidak mencoblos karena gak ada yang benar tuh parpol, caleg dan semua capres!”. Fine, okay, itu pilihan anda. Namun jangan protes ya kalau ada masalah di perundangan dan pemerintahan. Ketika dikasih kesempatan anda tidak mau berkontribusi, begitu ada masalah eh baru teriak. Kemana aja loe selama ini?

Anda bisa menagih janji mereka semua (aleg dan presiden) jika anda memberi mandat. Jika anda hadir di TPS, memberikan kontribusi dengan memilih, lalu anda bisa menagih komitmen mereka semua.

Akhirnya, hari gini mau golput? Apa kata dunia!

(Silakan dibagikan kepada teman dan saudara jika anda berkenan. Ini sumbangan ilmu political economy yang saya pelajari)

Mendapatkan Beasiswa Kampus Mudah

Mendapatkan Beasiswa Kampus 1

Banyak sekali pertanyaan yang saya terima mengenai topik sebelumnya sehingga saya kira lebih efisien untuk menjawab dengan membuat diagram dan video di bawah ini.

Beasiswa kampus ini adalah salah satu rahasia mengapa banyak sekali mahasiswa asal India dan China yang berada di Amerika. Jika ada 10 posisi beasiswa di 10 program pada 100 universitas di Amerika, maka jumlah mahasiswa asing sudah mencapai 10.000 orang. Padahal jumlah program dan universitas berlipat-lipat dari itu. Sayang, orang Indonesia belum banyak tahu dan juga kurang percaya diri menoba kesempatan ini.

Intinya, mendapatkan beasiswa kampus itu mudah. Asalkan didukung oleh persiapan yang memadai. Walaupun tidak lancar berbahasa Inggris secara verbal dengan lancar, jangan kuatir asalkan tes bahasa Inggris (TOEFL/IELTS) dengan skor minimum telah dicapai. Persiapkan juga GRE. Walaupun skor GRE lebih rendah dari yang diharuskan, boleh saja dicoba melamar ke profesor di universitas yang ingin kita tuju. Jika yang bersangkutan tertarik dengan wajah riset anda, maka akan ada keringanan yang diberikan.

Jika tidak ada jawaban dari seorang profesor, jangan patah semangat. Masih banyak akademisi di luar sana yang menanti kehadiran anda untuk membantu risetnya. Makanya pastikan bahwa anda telah menghubungi profesor yang memiliki bidang riset yang sama dengan yang anda kerjakan sekarang.

Akhirnya, setelah berikhtiar, sempatkan berdoa. Juga minta bantuan doa dari orang-orang terdekat yang mencintai anda. Selanjutnya, biarkan takdir Tuhan datang menjemput.

Ohya, tips ini bukan saja untuk PhD, master juga bisa. Walaupun kebanyakan beasiswa diberikan kepada PhD students.

Apa yang saya sampaikan bisa berbeda dengan kawan lain yang telah mendapatkan beasiswa PhD dari kampusnya masing-masing. Yang saya tuliskan dan ceritakan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Semoga membantu kawan-kawan semua.

Selamat memburu beasiswa kampus di luar negeri.

Bahasa Inggris Jelek bisa PhD di Amerika

“Saya melihat langsung banyak mahasiswa asing yang tidak bisa bahasa Inggris lisan tapi mendapatkan beasiswa dari kampus dengan bekerja sebagai RA (Research Assistant) dan TA (Teaching Assistant). Bahkan di antara mereka (TA) ada yang mengajar dengan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan.” (Wardhana 2013)

-Januari 9, 2014-

Siang ini (9 Januari 2014) saya bertemu dengan Kepala Program yang sekaligus pembimbing riset doktoral saya. Setelah menandatangani surat-surat yang saya butuhkan untuk menjalankan riset di tanah air, serta memuji perkembangan studi dan riset saya ceile, dia tiba-tiba meminta saya dalam bahasa gaul:

“Ajak dong kawan-kawanmu ke sini. Kita butuh mahasiswa internasional. Tidak masalah jika nilai verbal dalam GRE-nya rendah. Yang penting kuantitatif-nya bagus. Nanti setelah di sini akan menguasai bahasa Inggris dengan cepat juga.”

Dalam hati saya “Wah profesor cantik ini nyindir rupanya, karena kemampuan bahasa saya gak ok. Tapi ya senang juga dianggap nilai kuantitatif (alias matematika) tinggi karena dua kali tes GRE hasilnya gak bagus-bagus amat sih”.

“Ok-lah prof, saya coba nanti pasarkan program ini ke teman-teman.”

Terus dia cerita agak panjang tentang seorang PhD yang baru lulus yang juga berasal dari Indonesia dan sebelumnya akan dipekerjakan menjadi staf pengajar.

“Sayang sekali si A tidak jadi ke sini. Kami terlambat memberikan jawaban, akhirnya dia ke Singapura. Padahal saya sudah ok banged ama si doi.”

Setelah saya sampaikan saya masih ber-email ria dengan si A, prof saya bilang: “Wah, dibujuk aja supaya nanti dia pindah ke sini”.

Dia juga menyampaikan terdapat pendanaan untuk mahasiswa/i doktoral di kampus.

Sebelum dia ngomong lebih panjang lagi, saya langsung undur diri untuk menyembunyikan suara yang serak-serak basah karena batuk berdahak.

Nah, apa inti cerita saya ini?

#1. Kualitas mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa asing lainnya bahkan mahasiswa Amerika Serikat sendiri. Kinerja kita sebagai insan pembelajar dapat memukau akademisi di universitas kelas dunia. Sebagai sample adalah teman saya si A dan saya sendiri.

#2. Masalah kemampuan berbahasa Inggris memang masih menjadi sebab rendahnya partisipasi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tetapi sebenarnya kita tidak jelek-jelek amat dibandingkan dengan negara lain. Saya melihat langsung banyak mahasiswa asing yang tidak bisa bahasa Inggris lisan tapi mendapatkan beasiswa dari kampus dengan bekerja sebagai RA (Research Assistant) dan TA (Teaching Assistant). Bahkan di antara mereka (TA) ada yang mengajar dengan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan.

#3. Selain kemampuan berbahasa, kelemahan kita pada umumnya adalah kepercayaan diri. Kita sering menilai diri kita lebih rendah dari kemampuan seharusnya. Mungkin niatnya rendah hati tapi terlanjur menjadi rendah diri dan menjadi krisis pede. Padahal kita itu lebih baik dari yang kita kira (we are bigger than what we think we are). Jadi mari dibangun percaya diri dan semangat juara.

Akhirnya saya sampaikan di sini, silakan hubungi saya jika teman-teman ingin melanjutkan studi doktoral di kampus saya. Inshaa Allah, akan saya hubungkan dengan profesor saya dan semoga bisa dapat pendanaan. Ditunggu ya!

Catatan:

GRE adalah singkatan dari Graduate Record Examination yang merupakan tes standar dan diperlukan bagi pelamar program pascasarjana (master dan doktoral). Materi tesnya meliputi kuantitatif (matematika) dan verbal (bahasa). Nilai tes ini dipercaya menjadi alat prediksi keberhasilan seseorang dalam menjalankan studi.

Tarnedi dan Supir Taksi PhD lulusan Stanford

tarnedi supir taksi

“Belajar adalah aktivitas untuk menunaikan amanah manusia sebagai pengelola alam semesta.” (Wardhana 2013)

–Desember 12, 2013–

Bagi Tarnedi (54 tahun), seorang supir taksi di Jakarta yang sedang populer beberapa hari ini, belajar bahasa Inggris merupakan kebutuhan dasar harian. Sebagaimana kita butuh makan dan minum, maka bercakap dan bernyanyi dalam bahasa Inggris juga merupakan kegiatan harian Tarnedi.

Berbeda dengan Tarnedi yang tidak tamat Sekolah Dasar, seorang supir taksi di Singapura adalah doktor lulusan Stanford. Chai Mingjie adalah seorang peneliti biologi yang kehilangan pekerjaan di tahun 2008.  Ming kemudian memutuskan untuk menjadi supir taksi.

Semangatnya untuk mengasah otak membuatnya rajin menuliskan catatan harian. Semula Ming menerbitkan tulisannya di internet, kemudian ia menerbitkan catatannya menjadi buku berjudul Diary of a Taxi Driver: True Stories from Singapore’s Most Educated Cabdriver yang dijual di Amazon.com.

Apa pelajaran dari kisah kedua supir taksi ini?

Pertama, belajar adalah aktivitas untuk menunaikan amanah manusia sebagai pengelola alam semesta. Sebagai manajer dan leader atas bumi dan seisinya, manusia harus selalu mencari tahu pengetahuan dan keterampilan baru agar dapat menjalankan amanah tersebut. Maka Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat, kemanapun dan bagaimanapun.

Sebuah potongan kalimat di ayat ke-11 dalam Surah Al Mujadilah memberikan penegasan atas posisi superior pada orang yang berilmu (yang sudah tentu dari proses belajar):

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Kedua, semangat belajar membuat kita menjadi manusia yang selalu ber-akhlak dan berpenampilan baik. Belajar membuat kita mengakui kelemahan diri dan rendah hati. Belajar membuat kita respek pada orang lain. Belajar membuat kita sadar bahwa kita memiliki banyak kekurangan. Belajar membuat kita selalu optimis. Selalu segar dan terbuka dengan gagasan baru.

Henry Ford berkata: “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young.”

Ford menyampaikan, jika tidak ingin tua, maka belajarlah ini mungkin sebabnya saya sering dikira mahasiswa S1 freshmen tahun pertama hehe.

Ketiga, semangat belajar hendaknya bukan hanya mengejar selembar ijazah. Gelar doktor  dan profesor (capaian tertinggi dalam proses belajar formal) tidak menghalangi kita terus belajar. Tidak tamat SD juga bukan alasan kita tidak belajar. Belajarlah untuk mengejar keterampilan, memperbaiki nasib di masa depan, serta untuk menemukan potensi terbaik kita.

Keempat, jika semua orang Indonesia memiliki semangat belajar seperti Tarnedi dan Ming, tidak lama lagi Indonesia akan menjadi negara maju dan makmur. Mengapa? Karena kemajuan bangsa-bangsa selalu diawali dari terbangunnya masyarakat yang berpengetahuan. Istilahnya modal sumber daya manusia (human capital).

Teori ekonomi dan penelitian empiris (sesuai kenyataan di lapangan) memeperlihatkan hubungan sebab akibat yang sangat jelas antara kualitas manusia dan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Banyak negara menjadi bukti bahwa sumber daya manusia, bukan bahan tambang serta minyak, yang mendorong kemakmuran. Kenapa? Karena manusia pembelajar akan terus menemukan hal-hal baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Inovasi dan teknologi di segala bidang diawali dari ide kecil manusia-manusia yang terus belajar.

Akhirnya, bagi para pengguna taksi, jangan underestimate atau memandang rendah supir taksi. Bisa-bisa mereka adalah seorang doktor seperti Ming atau kandidat doktor seperti saya. Bisa juga mereka adalah CEO yang sedang menyamar untuk survei kepuasan pelanggan. Bisa juga mereka adalah orang seperti Tarnedi yang selalu belajar dan layak disebut sebagai manusia super!

Apakah Pengadilan Independen?

ketok palu

“Apakah secara de facto pengadilan Indonesia sudah independen dari pemerintah yang berkuasa, politisi dan kelompok lainnya?” (Wardhana 2013)

–Desember 11, 2013–

Saat ini kita sedang disibukkan dengan debat pro kontra terkait putusan pengadilan atas seorang petinggi partai. Pihak yang pro putusan pengadilan menyampaikan bahwa vonis hakim sudah adil. Di lain pihak, pihak yang kontra vonis memandang pengadilan tidak independen.

Apakah independensi pengadilan itu?

Independensi adalah situasi dimana sebuah lembaga tidak tergantung pada pemerintah atau lembaga lainnya. Independensi pengadilan dalam menegakkan keadilan hukum di suatu negara dapat disamakan dengan independensi bank sentral dalam mengawal kebijakan moneter (moneter terkait dengan penerbitan mata uang, nilai tukar, suku bunga pinjaman tingkat dan inflasi yang di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia).

Independensi pengadilan berarti lembaga pengadilan tidak dipengaruhi oleh pemerintah yang berkuasa, politisi, dan pihak lainnya yang berkepentingan pada hasil pengadilan yang menguntungkan pihak mereka. Pengadilan yang independen idealnya akan menegakkan keadilan berdasarkan konstitusi dan hukum yang berlaku. Dalam hal, hakim memutuskan perkara yang belum diatur secara eksplisit, maka keputusannya diharapkan akan memihak untuk kemaslahatan terbaik dalam konteks kepentingan nasional dan publik.

Apakah independensi pengadilan penting?

Pengadilan yang independen sangat penting untuk keberlangsungan dan kemajuan suatu bangsa. Semakin kompleks suatu masyarakat, maka semakin banyak masalah hukum yang harus diselesaikan. Jika suatu pengadilan independen dan tidak dapat dipengaruhi keputusannya, maka keadilan akan tegak. Keadilan yang terjamin akan mendorong hubungan antar manusia, antar lembaga dan antar negara.

Sebagai contoh, transaksi perdagangan akan meningkat pesat karena setiap pihak terjamin akan mendapatkan barang dan uang sesuai dengan kesepakatan antar penjual dan pembeli. Pemilik modal akan merasa aman untuk menginvestasikan dananya membangun pabrik dan memulai produksi dengan jaminan pengadilan yang independen. Berdasarkan data empiris (keadaan sebenarnya), negara-negara yang ekonominya maju diawali dengan sistem pengadilan yang independen.

Feld and Voigt (2013) memeriksa hubungan antara independensi pengadilan berdasarkan de jure (aturan tertulis) dan de facto (praktek sebenarnya) dengan pertumbuhan ekonomi di 75 negara. Mereka menemukan perbedaan independensi pengadilan antara de jure dan de facto dimana yang pertama memiliki seperangkat aturan independen secara tertulis sedangkan yang kedua menggambarkan praktek independensi yang sebenarnya.

Mereka menyimpulkan bahwa independensi pengadilan de facto yang dapat menjelaskan pertumbuhan ekonomi. Independensi pengadilan de facto memiliki hubungan signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Bagaimana dengan pengadilan di Indonesia?

Bagaimana independensi pengadilan Indonesia secara de jure? Apakah secara de facto pengadilan Indonesia sudah independen dari pemerintah yang berkuasa, politisi dan kelompok lainnya? Saya tunggu pandangan anda semua!

Fenomena Negara Maju dengan Empat Musim

“Penghargaan terhadap waktu merupakan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara iklim dengan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di dunia.” (Wardhana 2013)

–6 Des, 2013–

4 seasons

Hari ini dan esok, jalanan dan permukaan tanah di kota Dallas dipenuhi oleh es, bukan salju. Semua membeku diselimuti es termasuk pohon dan ranting. Praktis kantor dan sekolah ditutup, orang-orang berdiam diri di rumah.

Dari kejadian ini ada hal yang menggelitik saya. Kalau kita perhatikan ada fenomena unik mengenai persamaan negara-negara maju yaitu mereka memiliki 4 musim (subtropis) yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tidak umum bagi negara tropis yang hanya punya dua musim (musim hujan dan musim kemarau) seperti Indonesia untuk duduk di deretan negara maju. Pengecualian adalah tetangga kita Singapura.

Beberapa ekonom menghubungkan proses sebab-akibat antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui penyakit. Di negara tropis, penyakit mematikan sangat mudah menular, para investor menghindari tempat ini sehingga perkembangan ekonominya terhambat. Berbeda dengan negara subtropis yang lebih aman dalam konteks penyakit.

Ada juga ekonom yang mengaitkan antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui penghargaan terhadap waktu. Di negara 4 musim, masyarakatnya sangat peduli dengan waktu. Kalau mereka tidak menghitung waktu, mereka bisa mati, misalnya karena kurang persiapan untuk musim dingin (tanaman mati, jalanan tidak dapat dilalui, dll). Sementara penduduk negara tropis sangat cuek dengan waktu karena sepanjang tahun dapat bekerja tanpa jeda cuaca.

Melihat perkembangan penanganan penyakit di negara tropis yang cukup progresif, saya melihat hipotesis pertama dapat diabaikan. Secara khusus dengan mengamati Indonesia, saya lebih cenderung pada hipotesis kedua. Penghargaan terhadap waktu merupakan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara iklim dengan kemajuan ekonomi bangsa-bangsa di dunia.

Di negara maju, waktu sangat dihargai. Jadwal kereta di Tokyo, Jepang bukan 5.30 atau 6.30 namun 5.07, 6.32. Telat 1 menit ya bye bye, harus menanti 5-15 menit kereta selanjutnya. Dalam rapat-rapat di Amerika dan Eropa, jadwal sangat ketat. Mulai jam 5.30, maka mulai tepat 5.30 bukan dibuat molor menunggu yang hadir sampai jam 6.30 bahkan 7.30.

Bagaimana dengan penghargaan waktu di negeri kita? Kita semua tahu sendiri-lah tanpa perlu di-detil-kan. Makanya negara kita sangat terkenal sebagai “the rubber watch” alias si jam karet. Sebutan ini hanya puncak gunung es dari perilaku kita yang sangat tidak menghargai waktu. Akhirnya etik kerja dan produktivitas kita cenderung rendah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jika Indonesia ingin menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah dan kemiskinan enyah), kita harus memulai dengan satu kata: WAKTU. Hargai dan perlakukan waktu sebagai aset termahal. Hilangkan budaya JAM KARET. Hilangkan budaya INSYAA ALLAH ala Indonesia (untuk ngeles dan janji palsu). Mulai budaya TEPAT WAKTU. Mulai budaya KOMIT pada JANJI dan WAKTU.

Apakah bisa? Tentu bisa. If you think we can, we can!

Rupiah Lemah dan Momentum Ekspor Indonesia

“… dengan membuat Yuan lemah maka barang made in China bisa membanjiri dunia.” (Wardhana 2013)

–Des 3, 2013–

rupiah vs dollar
Melemahnya nilai tukar rupiah boleh saja diratapi oleh sebagian kalangan karena akan menyebabkan berbagai kesulitan ekonomi. Secara teknis, rupiah yang melemah terhadap dolar menyebabkan utang pemerintah dan swasta dalam bentuk mata uang asing melonjak jika di-rupiah-kan. Jika sebelumnya utang Rp 10 juta pada kurs 1 dolar = 10 ribu rupiah, maka sekarang utang berjumlah Rp 12 juta pada kurs 1 dolar = 12 ribu rupiah.

Namun di lain pihak, kondisi ini akan sangat menguntungkan bagi kalangan yang mengekspor barang Indonesia ke luar negeri. Jika sebelumnya harga barang Rp 10 juta = 1000 dolar, maka sekarang harga barang menjadi 833 dolar. Tentu saja barang dengan harga lebih murah (kualitas sama) akan sangat diminati.

Inilah rahasia mengapa China begitu ngotot mempertahankan kurs nilai tukar Yuan agar selalu lebih rendah dari yang seharusnya terhadap dolar. Mereka adalah ekonomi berbasis ekspor sehingga dengan membuat Yuan lemah maka barang made in China bisa membanjiri dunia.

Hendaknya pemerintah membuka keran ekspor seluas-luasnya dengan berbagai kemudahan bisnis, pembiayaan, dan edukasi. Jika ini momentum untuk mendirikan lagi Bank Pembangunan, ayo silakan digarap. Bisa juga membesarkan lembaga penjamin pembiayaan ekspor yang sudah ada. Permudah jangan dipersulit. Jangka panjangnya, dengan eksportir yang maju, pengangguran berkurang, kemiskinan punah, dan bangsa menjadi kuat. Kembali China sebagai contoh model ini.

Akhirnya sebagai penutup, mari kita camkan kalimat berikut. Daripada menangisi keadaan, lebih baik menikmatinya.