Mau Golput di April 2014?

Daftar Partai Peserta Pemilu 2014 sesuai nomor urut

Sebentar lagi Pemilu. Mari kita sisihkan waktu mulai sekarang untuk mengevaluasi partai politik serta para caleg di dapil masing-masing. Juga kandidat capres.

Berikut dialog imaginer saya dengan beberapa orang yang berencana tidak menyoblos alias golput:

“Ah, saya khan cuma sumbang satu suara? Gak ada gunanya.” Benar satu suara tidak bisa menyumbang satu kursi dewan atau kursi presiden. Tapi bayangkan kalau setiap orang berpikir demikian, apa yang terjadi? Bayangkan kalau anda yang baik dan jujur tidak memilih perwakilan yang baik dan jujur di dewan dan di istana negara, apa yang terjadi? Bukan 5 tahun efeknya namun puluhan tahun bahkan masa depan Indonesia dipertaruhkan!

“Demokrasi haram dan bid’ah makanya saya golput!” Okay silakan jika berpandangan demikian. Kalau begitu kenapa menggunakan bank, asuransi? Itu bid’ah loh. Terus kenapa sekolah dari SD sampai PT? Itu gak ada di zaman Rasul loh.

“Demokrasi khan dari Barat!” Trus, semua yang dari Barat haram? Rasul saja meniru teknologi Barat (contoh Perang Parit-Khandaq, dll).

“Hukum sudah sepenuhnya dari Al Qur’an, kita haram membuat hukum.” Okay. Namun negara bukan hanya kaum muslimin saja khan? Rasul saja dulu membuat UUD Piagam Madinah. Kenapa tidak pakai Al Qur’an untuk semua agama di Madinah saat itu?

“Ah saya mau golput aja alias tidak mencoblos karena gak ada yang benar tuh parpol, caleg dan semua capres!”. Fine, okay, itu pilihan anda. Namun jangan protes ya kalau ada masalah di perundangan dan pemerintahan. Ketika dikasih kesempatan anda tidak mau berkontribusi, begitu ada masalah eh baru teriak. Kemana aja loe selama ini?

Anda bisa menagih janji mereka semua (aleg dan presiden) jika anda memberi mandat. Jika anda hadir di TPS, memberikan kontribusi dengan memilih, lalu anda bisa menagih komitmen mereka semua.

Akhirnya, hari gini mau golput? Apa kata dunia!

(Silakan dibagikan kepada teman dan saudara jika anda berkenan. Ini sumbangan ilmu political economy yang saya pelajari)

Apakah Kita Perlu Pemerintah? (Bagian II)

Sebelum membahas lebih lanjut apakah kita perlu pemerintah atau tidak, kita akan diskusikan dulu struktur sosial ekonomi masyarakat. Bahwa masyarakat terbagi atas 3 kelompok besar yaitu sektor publik, sektor swasta dan sektor ketiga. Nah, sektor publik itu mengurusi pemerintahan, swasta melakukan aktivitas ekonomi dengan motif mencari keuntungan, dan sektor ketiga adalah di antara keduanya yaitu bukan pemerintah dan tidak untuk mencari keuntungan.

Di antara ketiga kelompok sosial ekonomi ini, yang paling mudah dilihat adalah swasta. Mereka wujud dalam berbagai bentuk usaha dari usaha perorangan sampai bisnis konglomerat. Mereka menghasilkan keuntungan dari menjual barang dan jasa untuk membesarkan skala usaha, menggaji karyawan, mendorong bisnis pendukung di sekitarnya, dan manfaat lainnya. 

Apakah hanya manfaat? Tentu saja tidak. Didorong oleh keuntungan materi yang berlimpah, sektor swasta memiliki insentif untuk melipatgandakan profit dengan menekan serendah mungkin biaya. Termasuk biaya yang dipangkas adalah biaya polusi udara, air, dan suara. Biaya memulihkan lingkungan yang rusak karena eksploitasi bahan mineral. Biaya konservasi lingkungan. Biaya kesenjangan sosial. Serta dampak-dampak negatif lainya yang dialami oleh masyarakat, flora, fauna, dan lingkungan.

Swasta yang memiliki modal kuat akan semakin leluasa dalam mengurangi biaya-biaya produksi barang dan jasanya. Mereka mudah sekali untuk mendikte lingkungan untuk mengikuti apapun agenda produksi mereka. Mengapa demikian? Karena swasta dapat dengan mudah menyewa sumbed daya (manusia, peralatan, media, dll) yang dapat memaksakan kehendak mereka pada masyarakat. 

(to be continued)

 

 

 

 

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑