tagxedo Jan 2014

Mendapatkan Beasiswa Kampus Mudah

Mendapatkan Beasiswa Kampus 1

Banyak sekali pertanyaan yang saya terima mengenai topik sebelumnya sehingga saya kira lebih efisien untuk menjawab dengan membuat diagram dan video di bawah ini.

Beasiswa kampus ini adalah salah satu rahasia mengapa banyak sekali mahasiswa asal India dan China yang berada di Amerika. Jika ada 10 posisi beasiswa di 10 program pada 100 universitas di Amerika, maka jumlah mahasiswa asing sudah mencapai 10.000 orang. Padahal jumlah program dan universitas berlipat-lipat dari itu. Sayang, orang Indonesia belum banyak tahu dan juga kurang percaya diri menoba kesempatan ini.

Intinya, mendapatkan beasiswa kampus itu mudah. Asalkan didukung oleh persiapan yang memadai. Walaupun tidak lancar berbahasa Inggris secara verbal dengan lancar, jangan kuatir asalkan tes bahasa Inggris (TOEFL/IELTS) dengan skor minimum telah dicapai. Persiapkan juga GRE. Walaupun skor GRE lebih rendah dari yang diharuskan, boleh saja dicoba melamar ke profesor di universitas yang ingin kita tuju. Jika yang bersangkutan tertarik dengan wajah riset anda, maka akan ada keringanan yang diberikan.

Jika tidak ada jawaban dari seorang profesor, jangan patah semangat. Masih banyak akademisi di luar sana yang menanti kehadiran anda untuk membantu risetnya. Makanya pastikan bahwa anda telah menghubungi profesor yang memiliki bidang riset yang sama dengan yang anda kerjakan sekarang.

Akhirnya, setelah berikhtiar, sempatkan berdoa. Juga minta bantuan doa dari orang-orang terdekat yang mencintai anda. Selanjutnya, biarkan takdir Tuhan datang menjemput.

Ohya, tips ini bukan saja untuk PhD, master juga bisa. Walaupun kebanyakan beasiswa diberikan kepada PhD students.

Apa yang saya sampaikan bisa berbeda dengan kawan lain yang telah mendapatkan beasiswa PhD dari kampusnya masing-masing. Yang saya tuliskan dan ceritakan berdasarkan pengalaman saya sendiri. Semoga membantu kawan-kawan semua.

Selamat memburu beasiswa kampus di luar negeri.

Bahasa Inggris Jelek bisa PhD di Amerika

“Saya melihat langsung banyak mahasiswa asing yang tidak bisa bahasa Inggris lisan tapi mendapatkan beasiswa dari kampus dengan bekerja sebagai RA (Research Assistant) dan TA (Teaching Assistant). Bahkan di antara mereka (TA) ada yang mengajar dengan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan.” (Wardhana 2013)

-Januari 9, 2014-

Siang ini (9 Januari 2014) saya bertemu dengan Kepala Program yang sekaligus pembimbing riset doktoral saya. Setelah menandatangani surat-surat yang saya butuhkan untuk menjalankan riset di tanah air, serta memuji perkembangan studi dan riset saya ceile, dia tiba-tiba meminta saya dalam bahasa gaul:

“Ajak dong kawan-kawanmu ke sini. Kita butuh mahasiswa internasional. Tidak masalah jika nilai verbal dalam GRE-nya rendah. Yang penting kuantitatif-nya bagus. Nanti setelah di sini akan menguasai bahasa Inggris dengan cepat juga.”

Dalam hati saya “Wah profesor cantik ini nyindir rupanya, karena kemampuan bahasa saya gak ok. Tapi ya senang juga dianggap nilai kuantitatif (alias matematika) tinggi karena dua kali tes GRE hasilnya gak bagus-bagus amat sih”.

“Ok-lah prof, saya coba nanti pasarkan program ini ke teman-teman.”

Terus dia cerita agak panjang tentang seorang PhD yang baru lulus yang juga berasal dari Indonesia dan sebelumnya akan dipekerjakan menjadi staf pengajar.

“Sayang sekali si A tidak jadi ke sini. Kami terlambat memberikan jawaban, akhirnya dia ke Singapura. Padahal saya sudah ok banged ama si doi.”

Setelah saya sampaikan saya masih ber-email ria dengan si A, prof saya bilang: “Wah, dibujuk aja supaya nanti dia pindah ke sini”.

Dia juga menyampaikan terdapat pendanaan untuk mahasiswa/i doktoral di kampus.

Sebelum dia ngomong lebih panjang lagi, saya langsung undur diri untuk menyembunyikan suara yang serak-serak basah karena batuk berdahak.

Nah, apa inti cerita saya ini?

#1. Kualitas mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa asing lainnya bahkan mahasiswa Amerika Serikat sendiri. Kinerja kita sebagai insan pembelajar dapat memukau akademisi di universitas kelas dunia. Sebagai sample adalah teman saya si A dan saya sendiri.

#2. Masalah kemampuan berbahasa Inggris memang masih menjadi sebab rendahnya partisipasi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tetapi sebenarnya kita tidak jelek-jelek amat dibandingkan dengan negara lain. Saya melihat langsung banyak mahasiswa asing yang tidak bisa bahasa Inggris lisan tapi mendapatkan beasiswa dari kampus dengan bekerja sebagai RA (Research Assistant) dan TA (Teaching Assistant). Bahkan di antara mereka (TA) ada yang mengajar dengan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan.

#3. Selain kemampuan berbahasa, kelemahan kita pada umumnya adalah kepercayaan diri. Kita sering menilai diri kita lebih rendah dari kemampuan seharusnya. Mungkin niatnya rendah hati tapi terlanjur menjadi rendah diri dan menjadi krisis pede. Padahal kita itu lebih baik dari yang kita kira (we are bigger than what we think we are). Jadi mari dibangun percaya diri dan semangat juara.

Akhirnya saya sampaikan di sini, silakan hubungi saya jika teman-teman ingin melanjutkan studi doktoral di kampus saya. Inshaa Allah, akan saya hubungkan dengan profesor saya dan semoga bisa dapat pendanaan. Ditunggu ya!

Catatan:

GRE adalah singkatan dari Graduate Record Examination yang merupakan tes standar dan diperlukan bagi pelamar program pascasarjana (master dan doktoral). Materi tesnya meliputi kuantitatif (matematika) dan verbal (bahasa). Nilai tes ini dipercaya menjadi alat prediksi keberhasilan seseorang dalam menjalankan studi.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑