Australia-Indonesia: Antara Sahabat dan Tetangga

“Mungkin kita tidak bisa memilih tetangga tetapi kita selalu memiliki kebebasan memilih sahabat.” (Wardhana 2013)

— Des 3, 2013–

australia indonesia map

Saya sependapat dengan pandangan Anies Baswedan (Antara, 3 Desember 2013) bahwa:

“Saya kira, Indonesia-Australia itu bukan negara sahabat, melainkan negara tetangga yang hubungan keduanya perlu dibangun dengan cara-cara beradab. Abbott itu mirip anak TK, karena pelajaran pertama anak TK adalah minta maaf. Kalau tidak mau minta maaf berarti kalah dari anak TK.”*

Menurut saya, hubungan sahabat adalah kesetaraan dan reciprocity (timbal balik). Kesalahan dalam persahabatan itu hal biasa. Namun kalau salah satu pihak merasa lebih hebat dan digdaya, angkuh, dan memandang remeh pihak lain, ketegasan diperlukan. Hubungan sahabat bisa saja diputuskan dalam konteks ini. Walaupun kedua belah pihak tetap bertetangga namun tidak menjadi sahabat.

Jangan pernah kuatir kehilangan satu sahabat karena prinsip tegas dan harga diri. Walaupun sahabat berkurang, namun yang didapat adalah sahabat yang lebih loyal dan terpercaya.

Secara praktis, jangan takut kesulitan mengimpor daging sapi. Indonesia bisa mengimpor dari Selandia Baru dan Amerika Latin. Sapi di Pulau Sulawesi juga berlimpah namun kesulitan infrastruktur untuk perdagangan ke Pulau Jawa menurut Jusuf Kalla (2013).

Menurut hitungan saya, kehilangan persahabatan Indonesia-Australia akan membawa kerugian lebih besar kepada Australia. Dia semakin tergantung pada Amerika Serikat di seberang sana dalam “menghadang” China. Dia akan kebanjiran pengungsi dan manusia perahu. Dia akan kehilangan pasar sebesar 250 juta orang.

Bagaimana hibah dana beasiswa yang mencapai 500 orang di level master dan doktoral per tahun kepada sarjana Indonesia? Memang ini kerugian untuk pembangunan SDM kita. Namun masih banyak hibah dari negara lain serta dukungan perusahaan yang bisa dimanfaatkan. Bahkan salah satu lembaga pemerintah Indonesia mengklaim dapat membiayai ribuan pelajar Indonesia setiap tahun ke luar negeri.

Hikmah kasus ini dapat diperas dalam satu kalimat. Mungkin kita tidak bisa memilih tetangga, tapi kita selalu memiliki kebebasan memilih sahabat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: