Indonesia: Demokrasi dan Ekonomi

“… titik keseimbangan demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi modal terbesar Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.” (Wardhana, 2009)

–Juni 3, 2009–

Menarik sekali mencermati pandangan-pandangan kandidat capres dan cawapres mengenai konsep ekonomi yang ideal bagi kepentingan nasional. Beberapa poin yang bisa saya sampaikan dari hasil pemahaman pribadi antara lain:

Pertama, saya bangga sebagai anak bangsa karena kini para pemimpin bangsa kita sudah semakin dewasa. Perdebatan antar elit politik sudah memasuki hal-hal yang substansial dan fokus pada tujuan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Walaupun masih terlihat upaya menyerang lawan politik dari segi kepribadian, namun yang sangat menonjol di ruang publik adalah sikap saling mengkritisi konsep dan kebijakan yang kelak akan diadopsi oleh pasangan pemenang saat memerintah. Sehingga, kini, kita semakin akrab dengan istilah-istilah ekonomi. Lebih jauh lagi, kita semakin mengerti dengan alasan-alasan di balik penerapan suatu kebijakan pemerintah. Tentu saja proses ini sangat positif untuk mewujudkan demokrasi yang dewasa dan stabil secara berkesinambungan.

Hal kedua adalah, masalah ekonomi menjadi isu sentral dari retorika dan wacana yang dilontarkan para pasangan capres cawapres. Masing-masing pasangan berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan kehebatan resep ekonomi mereka. Ada yang menawarkan kecepatan bertindak, ada yang menggelorakan isu ekonomi kerakyatan, dan tentu saja ada yang mengajak agar konsep yang ada dilanjutkan karena telah terbukti mengatasi masalah ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Lebih hebatnya lagi adalah naik kelasnya profesi ekonom, dari sebatas penjaga gawang kebijakan ekonomi fiskal dan moneter, kini menjadi ekonom-politisi yang memiliki kekuasaan lebih besar dalam mengeksekusi resep-resep ekonomi. Bahkan, kalau kita melihat catatan latar belakang profesi para presiden dan wakil presiden sejak dwi tunggal Sukarno Hatta*, baru pada tahun 2009 inilah nilai pasar seorang ekonom, diwakili oleh sosok Boediono, dianggap sebanding dengan nilai pasar jenderal, politikus, pengusaha, atau keturunan keluarga presiden.

Ketiga dan terakhir, saya semakin bangga lagi karena di tengah suasana panasnya pemilihan presiden, kondisi ekonomi tidak memburuk. Bahkan pasar menunjukkan sentimen positif terhadap perkembangan politik akhir-akhir ini. Hal ini tentu saja merupakan bukti dari semakin mapannya demokrasi Indonesia. Karena itu, saya optimis bahwa titik keseimbangan demokrasi politik dan kesejahteraan ekonomi ini akan menjadi modal terbesar Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera.

Ayo maju bangsaku!

* Bung Hatta adalah ekonom-pejuang dan dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: