Mengenali Masalah: Sanitasi (Seri #1)

Menyambut ulang tahun Indonesia ke 70, mari kita mencoba untuk mengenali masalah yang ada di sekitar kita. Mari periksa fasilitas dasar berikut ini apakah tersedia di sekitar kita di setiap rumah (kampung halaman juga). Silakan tambahkan lagi jika dirasa kurang.

1. Akses air bersih dengan keran/pipa (bukan air tanah)

2. Toilet (Buang Air Besar) dan septic tank

3. Akses pembuangan air kotor ke parit/got

4. Layanan sampah komunitas (rutin)

5. Layanan sampah besar (dumpster)

Duka di Nepal

Nepal-Earthquake

Kita dikagetkan dengan liputan di berbagai media massa mengenai bencana gempa bumi di Nepal. Menjadi segar ingatan akan kejadian gempa di Indonesia seperti Yogya dan beberapa tempat lainnya.

Duka mendalam untuk musibah ini. Semoga para korban dapat dikebumikan dengan baik, dan para keluarga korban dapat bersabar. Semoga otoritas Nepal dapat bertindak untuk memulihkan wilayah musibah dengan cepat.

Source: Newscientist.com

Semangat Berolahraga

Olahraga1

Ayo senantiasa berolahraga secara rutin. Olahraga adalah bentuk usaha dan ikhtiar untuk memelihara kesehatan. Juga ini bentuk syukur atas karunia yang diberikan Allah swt kepada kita berupa kesehatan. Dengan tubuh yang sehat, kita bisa melahirkan banyak karya terbaik.

Joss!

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 11.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 4 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Courtesy Meetings and Public Dialogue

Organisasi AMINA belum resmi di-launching. Mohon dukungannya ya.

AMINA

As a new organization, AMINA needs to meet prominent people who have authority and expertise in the US-Indonesia issues. From March 27th until March 29th, AMINA travelled to Washington DC, New York City, and Boston to conduct courtesy meetings and participate in a public dialogue. The following pictures and notes are the summary.

AMBASSADOR OF INDONESIA for the US

AMINA met His Excellency Bapak Budi Bowoleksono in his first day in the Indonesian Embassy. For in depth interview and dialogue, he was represented by Bapak Heru H. Subolo (Minister Counselor for Press and Information Affairs) and Bapak Haryo Winarso (Attache for Education and Cultural Affairs).

DSC_0798

In the separated session, AMINA also had a meeting with Bapak Achmad Rachman (Attache for Agriculture).

DSC_0968

BROOKINGS INSTITUTION

Afterwards, AMINA visited Brookings Institution to meet Ashley Miller and Bimo Yusman. We discussed many things in particular Indonesia role in ASEAN and the upcoming Indonesian election.

DSC_0808

INDONESIA…

Lihat pos aslinya 203 kata lagi

Mau Golput di April 2014?

Daftar Partai Peserta Pemilu 2014 sesuai nomor urut

Sebentar lagi Pemilu. Mari kita sisihkan waktu mulai sekarang untuk mengevaluasi partai politik serta para caleg di dapil masing-masing. Juga kandidat capres.

Berikut dialog imaginer saya dengan beberapa orang yang berencana tidak menyoblos alias golput:

“Ah, saya khan cuma sumbang satu suara? Gak ada gunanya.” Benar satu suara tidak bisa menyumbang satu kursi dewan atau kursi presiden. Tapi bayangkan kalau setiap orang berpikir demikian, apa yang terjadi? Bayangkan kalau anda yang baik dan jujur tidak memilih perwakilan yang baik dan jujur di dewan dan di istana negara, apa yang terjadi? Bukan 5 tahun efeknya namun puluhan tahun bahkan masa depan Indonesia dipertaruhkan!

“Demokrasi haram dan bid’ah makanya saya golput!” Okay silakan jika berpandangan demikian. Kalau begitu kenapa menggunakan bank, asuransi? Itu bid’ah loh. Terus kenapa sekolah dari SD sampai PT? Itu gak ada di zaman Rasul loh.

“Demokrasi khan dari Barat!” Trus, semua yang dari Barat haram? Rasul saja meniru teknologi Barat (contoh Perang Parit-Khandaq, dll).

“Hukum sudah sepenuhnya dari Al Qur’an, kita haram membuat hukum.” Okay. Namun negara bukan hanya kaum muslimin saja khan? Rasul saja dulu membuat UUD Piagam Madinah. Kenapa tidak pakai Al Qur’an untuk semua agama di Madinah saat itu?

“Ah saya mau golput aja alias tidak mencoblos karena gak ada yang benar tuh parpol, caleg dan semua capres!”. Fine, okay, itu pilihan anda. Namun jangan protes ya kalau ada masalah di perundangan dan pemerintahan. Ketika dikasih kesempatan anda tidak mau berkontribusi, begitu ada masalah eh baru teriak. Kemana aja loe selama ini?

Anda bisa menagih janji mereka semua (aleg dan presiden) jika anda memberi mandat. Jika anda hadir di TPS, memberikan kontribusi dengan memilih, lalu anda bisa menagih komitmen mereka semua.

Akhirnya, hari gini mau golput? Apa kata dunia!

(Silakan dibagikan kepada teman dan saudara jika anda berkenan. Ini sumbangan ilmu political economy yang saya pelajari)

Apakah Kita Perlu Pemerintah? (Bagian II)

Sebelum membahas lebih lanjut apakah kita perlu pemerintah atau tidak, kita akan diskusikan dulu struktur sosial ekonomi masyarakat. Bahwa masyarakat terbagi atas 3 kelompok besar yaitu sektor publik, sektor swasta dan sektor ketiga. Nah, sektor publik itu mengurusi pemerintahan, swasta melakukan aktivitas ekonomi dengan motif mencari keuntungan, dan sektor ketiga adalah di antara keduanya yaitu bukan pemerintah dan tidak untuk mencari keuntungan.

Di antara ketiga kelompok sosial ekonomi ini, yang paling mudah dilihat adalah swasta. Mereka wujud dalam berbagai bentuk usaha dari usaha perorangan sampai bisnis konglomerat. Mereka menghasilkan keuntungan dari menjual barang dan jasa untuk membesarkan skala usaha, menggaji karyawan, mendorong bisnis pendukung di sekitarnya, dan manfaat lainnya. 

Apakah hanya manfaat? Tentu saja tidak. Didorong oleh keuntungan materi yang berlimpah, sektor swasta memiliki insentif untuk melipatgandakan profit dengan menekan serendah mungkin biaya. Termasuk biaya yang dipangkas adalah biaya polusi udara, air, dan suara. Biaya memulihkan lingkungan yang rusak karena eksploitasi bahan mineral. Biaya konservasi lingkungan. Biaya kesenjangan sosial. Serta dampak-dampak negatif lainya yang dialami oleh masyarakat, flora, fauna, dan lingkungan.

Swasta yang memiliki modal kuat akan semakin leluasa dalam mengurangi biaya-biaya produksi barang dan jasanya. Mereka mudah sekali untuk mendikte lingkungan untuk mengikuti apapun agenda produksi mereka. Mengapa demikian? Karena swasta dapat dengan mudah menyewa sumbed daya (manusia, peralatan, media, dll) yang dapat memaksakan kehendak mereka pada masyarakat. 

(to be continued)

 

 

 

 

 

Apakah Kita Perlu Pemerintah? (Bagian I)

pemerintah

Prof. Carunia Mulya Firdausy mengenang mendiang ekonom besar Thee Kian Wie dengan menyampaikan gagasan-gagasan mendiang semasa hidup. Salah satunya adalah

“Thee Kian Wie mengindikasikan lambatnya pembangunan ekonomi nasional selama ini disebabkan adanya birokrasi yang menghambat. Akibatnya, berbagai kebijakan fiskal dan moneter ataupun kebijakan ekonomi lainnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi jalan di tempat (Kompas, 13 Februari 2014 — kutipan tulisan lengkap bisa dilihat di sini).

Pada kesempatan lainnya, seorang sahabat saya menyampaikan unek-unek dari pengusaha yang mengeluhkan perilaku aparat pemerintah khususnya pegawai pajak dan polisi. Kira-kira ia berkata:

“Tidak ada gunanya pemerintah. Toh, aparatnya tidak pernah membantu bisnis saya, yang ada malah membuat susah.”

Kemudian banyak temuan dari penelitian yang dilakukan oleh lembaga nasional dan internasional menunjukkan bahwa pemerintah menjadi penghambat besar dalam kemajuan ekonomi di banyak negara termasuk Indonesia.

Lalu muncul pertanyaan mendasar, apakah kita perlu pemerintah?

(to be continued)

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑